Fajarasia.id – Rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat (19/6/2026) belum sepenuhnya menenangkan dunia pelayaran. Sejumlah perusahaan ekspedisi masih enggan melewati jalur strategis Selat Hormuz.
Salah satunya Mitsui O.S.K Lines asal Jepang. Kepala Eksekutif Jotaro Tamura menegaskan pihaknya menunggu bukti nyata bahwa kesepakatan benar-benar dijalankan. “Yang perlu diwujudkan bukan sekadar kesepakatan sederhana, tetapi harus diterjemahkan ke dalam situasi nyata di Selat Hormuz,” ujarnya, dikutip Reuters, Rabu (17/6/2026).
Perang yang pecah sejak Februari lalu telah menghentikan sebagian besar pengiriman melalui jalur transit penting dunia itu. Selat Hormuz sendiri menjadi jalur seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Tamura menilai sekalipun selat kembali dibuka, butuh waktu berminggu-minggu hingga kapal-kapal merasa aman untuk melintas. Kekhawatiran pelanggaran kesepakatan membuat perusahaan pelayaran masih menahan diri.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyebut kapal bermuatan minyak mulai bergerak keluar melalui jalur selatan yang diklaim aman. Namun, pelaku industri tetap menunggu kepastian implementasi perdamaian di lapangan.****





