Fajarasia.id – Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Komarun Najmi, mengungkapkan tantangan dalam swasembada pangan. Menurutnya, kebijakan pemerintah terkait swasembada pangan belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan petani.
Najmi menjelaskan bahwa keberhasilan swasembada membutuhkan keseimbangan antara penggunaan pupuk kimia dan organik. “Pemerintah harus memastikan bahwa penggunaan pupuk organik menjadi prioritas bersama pupuk kimia,” ujarnya Selasa (25/2/2025).
Najmi menekankan bahwa dukungan kebijakan sangat penting dalam mendorong produksi pangan nasional. Menurutnya, kebijakan yang kurang tepat menjadi penyebab ketidakseimbangan distribusi pangan di Indonesia.
“Tanpa kebijakan yang berpihak pada petani kecil, swasembada pangan sulit diwujudkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Najmi mengatakan bahwa pemerintah harus mendorong diversifikasi sumber pangan. Ia berpendapat bahwa selain beras, konsumsi jagung, sagu, dan ketela perlu ditingkatkan agar ketahanan pangan lebih kuat.
“Diversifikasi pangan harus menjadi kebijakan utama untuk mengurangi ketergantungan pada impor,” kata dia.
Najmi mengungkapkan bahwa petani memiliki inisiatif dalam menanam berbagai jenis pangan alternatif. Menurutnya, diversifikasi ini perlu mendapat dukungan lebih agar hasil produksi dapat terserap dengan baik oleh pasar.
Najmi juga menyoroti pentingnya distribusi dan jaminan harga bagi petani kecil. Sebab, tanpa dukungan kebijakan yang jelas, petani kesulitan dalam memasarkan hasil panen mereka.****





