Fajarasia.id – Protes mahasiswa yang terjadi di Bangladesh yang sudah dua minggu dianggap sebagai tantangan yang serius bagi pemerintahan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Perdana Menteri Bangladesh tersebut telah menduduki jabatannya yang keempat kali secara berturut-turut.
Hasina menyalahkan Partai Nasionalis Bangladesh dan Jamaat-e-Islami serta sayap mahasiswa mereka atas kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Ia mengatakan bahwa pemerintahnya akan bekerja untuk menekan para militan ini dan menciptakan lingkungan yang lebih baik, seperti yang telah dikutip dari BBC News pada Selasa (23/7/2024).
Para analis politik melihat kekacauan ini sebagai ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pemerintahan Hasina telah dianggap sebagai hal yang tidak adil dan membuat marah sebagian besar masyarakat.
“Politikasi yang berlebihan terhadap semangat perang pembebasan oleh Sheikh Hasina dan partainya, penolakan hak suara dasar bagi warga negara dari tahun ke tahun. Juga sifat diktatorial dari rezimnya telah membuat marah sebagian besar masyarakat,” kata Mubashar Hasan, seorang peneliti di Universitas Oslo yang mempelajari otoritarianisme di Asia.
“Sayangnya, dia tidak pernah menjadi perdana menteri untuk semua orang di negara ini. Sebaliknya, dia tetap menjadi pemimpin hanya untuk satu kelompok,” tambah Hasan.
Protes yang dilakukan oleh mahasiswa ini dikarenakan sistem kuota untuk pekerjaan pemerintah yang mengalokasikan 56 persen untuk pelamar dari kategori khusus dan 44 persen sisanya untuk pelamar umum. Mereka mengatakan bahwa sistem ini tidak adil karena menguntungkan anak-anak dari kelompok pro-pemerintah, harus diganti perekrutan berdasarkan prestasi.****





