Fajarasia.id — Presiden Prabowo Subianto menyoroti meningkatnya arus modal keluar (capital outflow) dari Indonesia yang dinilai berpotensi menekan stabilitas ekonomi nasional. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai rapat bersama Presiden di Istana.
Airlangga menjelaskan, capital outflow terjadi akibat tekanan di pasar modal, Surat Berharga Negara (SBN), serta dinetralisasi melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Beberapa hal yang menjadi perhatian Bapak Presiden terkait dengan capital outflow sudah didalami,” ujarnya.
Ia menambahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bersama Bank Indonesia telah bersepakat untuk menjaga arus modal keluar agar tidak mengganggu fondasi ekonomi. Kesepakatan kerja sama tersebut dilaporkan langsung kepada Presiden sebagai langkah antisipasi.
Pertemuan di Istana turut dihadiri sejumlah pejabat ekonomi, termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Gubernur BI Perry Warjiyo, serta jajaran menteri terkait. Para ekonom menilai, fokus kebijakan pemerintah kini bergeser dari ekspansi menuju penyelamatan indikator dasar ekonomi di tengah guncangan global.
Langkah antisipasi ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan pasar sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.****





