Fajarasia.id — Ketegangan di Teluk semakin memuncak setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait rencana operasi maritim baru yang diumumkan Presiden Donald Trump. Iran menegaskan, setiap campur tangan militer AS di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan berpotensi memicu konfrontasi besar.
Ancaman ini muncul usai Trump meluncurkan Project Freedom, operasi yang diklaim sebagai misi kemanusiaan untuk mengawal kapal-kapal komersial yang terjebak blokade. Namun, Teheran menilai langkah tersebut sebagai bentuk intervensi yang tidak dapat ditoleransi. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran menegaskan, “Setiap campur tangan Amerika dalam rezim maritim baru di Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.”
Situasi semakin panas setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan Trump bahwa armada tempur AS bisa berakhir sebagai “kuburan kapal induk” jika nekat memasuki wilayah tersebut. Pernyataan keras ini menambah ketidakpastian di tengah krisis yang telah melumpuhkan jalur utama perdagangan minyak dunia dan mendorong harga energi melonjak hingga 50 persen.
Sementara itu, Washington melalui Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan siap mengerahkan kapal perusak, ratusan pesawat tempur, hingga 15.000 personel untuk mengamankan jalur strategis tersebut. Meski Trump mengklaim masih ada diskusi positif dengan pihak Iran, ancaman terbuka dari Teheran menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih penuh rintangan.****





