Fajarasia.id — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan impor Indonesia pada April 2026 dengan nilai mencapai US$ 19,21 miliar, naik 1,51% dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 18,92 miliar. Secara kumulatif, total impor Januari–Maret 2026 mencapai US$ 61,30 miliar, tumbuh 10,05% dibandingkan periode serupa tahun 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan kenaikan impor dipicu oleh peningkatan barang migas maupun nonmigas. Impor nonmigas naik 1,54% menjadi US$ 16,04 miliar, sementara migas naik 1,34% menjadi US$ 3,17 miliar.
Pertumbuhan terbesar terjadi pada barang modal yang naik 4,98% menjadi US$ 3,89 miliar, serta bahan baku/penolong yang meningkat 2,15% menjadi US$ 13,77 miliar. Sebaliknya, impor barang konsumsi justru turun 10,81% menjadi US$ 1,55 miliar.
Tiga komoditas utama nonmigas yang mendominasi impor sepanjang kuartal pertama 2026 adalah mesin peralatan mekanik, mesin perlengkapan elektrik, serta plastik dan produk turunannya, dengan kontribusi 37,77% dari total impor nonmigas.
China masih menjadi mitra dagang terbesar dengan porsi 41,56% dari total impor, disusul Australia 5,94%, Jepang 5,47%, ASEAN 14,90%, Uni Eropa 6,34%, dan negara lainnya 25,79%.***





