Fajarasia.id — Situasi di Jalur Gaza kembali memanas. Gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober kini berada di ujung tanduk, dengan Israel memberi sinyal kuat akan melanjutkan operasi militer untuk memaksa pelucutan senjata kelompok bersenjata Palestina.
Suara drone dan ledakan di Khan Younis serta Deir el-Balah menunjukkan konflik sejatinya tak pernah benar-benar berhenti. Data medis mencatat sedikitnya 828 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata dimulai.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membatalkan rapat kabinet keamanan dan memilih konsultasi terbatas, di tengah tekanan militer yang menilai putaran konflik baru “hampir tak terhindarkan.” Radio Angkatan Darat Israel melaporkan pasukan telah menguasai sekitar 59% wilayah Gaza, melampaui batas kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, proposal yang mengaitkan bantuan kemanusiaan dengan pelucutan senjata ditolak mentah-mentah oleh Hamas dan faksi Palestina lainnya. Mereka menilai rencana itu sebagai jebakan politik yang memaksa penyerahan total tanpa solusi politik yang jelas.
Analis menilai ancaman perang bukan hanya soal keamanan, tetapi juga manuver politik domestik Israel. Namun, bagi warga Gaza, ancaman eskalasi berarti risiko kehancuran yang lebih besar. Data terbaru mencatat total korban tewas sejak perang dimulai telah mencapai lebih dari 72 ribu jiwa, menjadikan konflik ini salah satu yang paling destruktif dalam sejarah kawasan.****





