Fajarasia.id — Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra mengingatkan Singapura agar tidak meremehkan Indonesia dalam menyikapi kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan nasional. Ia menegaskan, Indonesia memiliki ruang untuk mengambil langkah apabila kepentingannya terganggu.
“Jadi kita juga ingatkan jangan suka main-main juga sama kita. Kita juga bisa melakukan sesuatu,” ujar Yusril saat menghadiri peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Yusril di tengah sorotan terhadap hubungan Indonesia dan Singapura, terutama setelah muncul perdebatan mengenai kebijakan pasokan gas alam Indonesia serta ketergantungan jaringan internet Indonesia terhadap infrastruktur di Singapura.
Yusril menilai Indonesia memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas nasional, termasuk dalam sektor energi. Ia menyinggung kondisi harga dan subsidi yang menurutnya tetap terkendali di tengah berbagai tantangan.
“Kita satu-satunya negara yang tidak mengalami kegoncangan energi, harga tetap stabil, subsidi tetap stabil. Nah, sesekali ya kita agak tunjuk gigi juga ya,” kata Yusril.
Meski menyampaikan peringatan tersebut, Yusril menekankan pentingnya keterbukaan terhadap kritik. Menurut dia, berbagai pandangan mengenai kondisi Indonesia perlu didengarkan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kekurangan dalam penyelenggaraan negara.
“Biarin aja ngomong apa aja, kita dengar aja. Dan mari kita perbaiki segala kekurangan-kekurangan yang ada pada bangsa dan negara kita ini,” tuturnya.
Sorotan terhadap hubungan kedua negara mencuat setelah mantan anggota Parlemen Singapura, Calvin Cheng, mengunggah infografis berjudul Indonesia’s Internet Dependence on Singapore melalui akun X miliknya.
Infografis tersebut menyebut sekitar 90 persen jaringan internet internasional Indonesia melewati Singapura. Cheng kemudian melontarkan pertanyaan mengenai kemungkinan pemutusan kabel internet bawah laut yang menghubungkan kedua negara.
Unggahan tersebut memunculkan perhatian karena infrastruktur telekomunikasi lintas negara memiliki peran penting bagi konektivitas digital, komunikasi, dan aktivitas ekonomi.
Polemik itu juga muncul setelah pemerintah Indonesia mengurangi pasokan ekspor gas alam ke Singapura. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengalihkan lebih banyak pasokan bagi pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Langkah Indonesia itu berkaitan dengan upaya menjaga ketersediaan energi nasional, sementara pernyataan Cheng menyoroti ketergantungan infrastruktur digital Indonesia terhadap Singapura.
Pernyataan Yusril menegaskan bahwa kepentingan nasional menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan pemerintah. Namun, dinamika hubungan kedua negara juga membutuhkan komunikasi diplomatik agar perbedaan kepentingan tidak berkembang menjadi ketegangan yang lebih luas.
Indonesia dan Singapura memiliki hubungan erat dalam perdagangan, investasi, energi, serta konektivitas digital. Karena itu, kebijakan yang menyangkut sektor-sektor tersebut dapat berdampak pada kepentingan kedua belah pihak.
Di tengah polemik yang berkembang, tantangannya adalah memastikan Indonesia mampu melindungi kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan bilateral yang saling menguntungkan.
Pemerintah juga perlu terus memperkuat ketahanan energi dan infrastruktur digital agar kebutuhan strategis Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu jalur atau negara tertentu.***





