Fajarasia.id – Serangan pesawat nirawak atau drone Rusia terhadap sebuah stasiun kereta di Kota Dnipro, Ukraina, menewaskan sedikitnya 14 orang. Serangan tersebut menjadi bagian dari gelombang gempuran Rusia yang menyasar sejumlah wilayah Ukraina di tengah harapan meredanya konflik melalui gencatan senjata terbatas.
Dikutip dari Reuters, Jumat (30/10/2026), serangan itu juga menimbulkan korban jiwa di dua kota lain. Sementara itu, serangan rudal Rusia menghantam sejumlah distrik di Ibu Kota Kyiv menjelang pukul 23.00 waktu setempat dan menewaskan satu orang.
Perdana Menteri Ukraina Sergiy Koretskyi menuduh Rusia sengaja menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan, termasuk mereka yang berada di kereta api, stasiun, dan bangunan tempat tinggal.
“Rusia dengan sengaja mengincar warga sipil: di dalam kereta, di stasiun, maupun di bangunan tempat tinggal,” ujar Koretskyi melalui aplikasi Telegram.
Dia mengecam serangan tersebut dan menyebut tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan terhadap warga sipil.
Selain menimbulkan korban jiwa, serangan juga menyebabkan sejumlah gudang terbakar. Puing-puing yang berjatuhan turut merusak sebuah bangunan di sisi timur Sungai Dnipro.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebelumnya menyebut rangkaian serangan tersebut sebagai tindakan yang sangat kejam. Dia menilai gempuran itu justru dilakukan ketika berbagai pihak sedang mengharapkan langkah untuk meredakan ketegangan.
Zelenskiy juga memperingatkan bahwa Ukraina memperoleh informasi intelijen mengenai persiapan Rusia untuk melancarkan serangan rudal balistik baru.
Dia mendesak negara-negara pendukung Ukraina segera mengambil keputusan untuk memperkuat kemampuan pertahanan negaranya.
Di tengah meningkatnya serangan, harapan untuk membuka jalur kemanusiaan sempat muncul melalui gencatan senjata selama enam hari di wilayah Kherson, Ukraina Selatan.
Kesepakatan tersebut dimediasi dengan bantuan Amerika Serikat dan hanya berlaku di wilayah tertentu, bukan untuk seluruh kawasan perang Ukraina.
Gencatan senjata itu berkaitan dengan pelaksanaan misi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan ke Kota Oleshky, wilayah yang berada di bawah kendali Rusia dan telah terisolasi sejak invasi Moskow pada 2022.
Kedua pihak menyampaikan pernyataan yang hampir serupa mengenai selesainya operasi pembersihan ranjau. Langkah tersebut memungkinkan bantuan kemanusiaan disalurkan ke kota itu sekaligus membuka kesempatan bagi warga yang ingin meninggalkan wilayah tersebut.
Namun, situasi keamanan di wilayah Ukraina lainnya masih jauh dari kondusif.
Serangan drone dan rudal Rusia yang menyasar berbagai infrastruktur penting, termasuk jaringan kereta api, terus mengganggu kehidupan masyarakat sipil.
Kerusakan infrastruktur transportasi tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga berpotensi mengganggu distribusi barang, aktivitas ekonomi, serta penyaluran bantuan kemanusiaan.
Rangkaian serangan terbaru ini memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang terbatas di satu wilayah belum menghentikan eskalasi konflik secara keseluruhan.
Di tengah situasi tersebut, keselamatan warga sipil dan perlindungan fasilitas umum kembali menjadi persoalan mendesak dalam konflik Rusia-Ukraina.****





