Pupuk Indonesia Kejar Target Emisi Turun 96 Persen, Pasokan Tetap Prioritas

Pupuk Indonesia Kejar Target Emisi Turun 96 Persen, Pasokan Tetap Prioritas

Fajarasia.id  — PT Pupuk Indonesia (Persero) menegaskan ketersediaan dan keterjangkauan pupuk tetap menjadi prioritas utama di tengah upaya perusahaan melakukan transisi energi dan menekan emisi karbon.

Sekretaris Perusahaan Pupuk Indonesia Yehezkiel Adiperwira mengatakan, proses transisi energi akan dilakukan secara bertahap dan terukur agar tidak mengganggu keandalan operasional pabrik maupun pasokan pupuk untuk kebutuhan nasional.

“Transisi energi yang kami lakukan itu bertahap dan terukur,” kata Yehezkiel saat dihubungi di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Menurut dia, pupuk memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan, terutama untuk mencapai target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah. Karena itu, operasional seluruh pabrik pupuk, mulai dari urea hingga NPK, harus tetap terjaga.

“Kita memastikan bahwa operasional dari seluruh pabrik kita, baik itu pabrik pupuk urea, pupuk NPK, dan pupuk lainnya, tetap kita jaga keandalannya,” ujarnya.

Di sisi lain, Pupuk Indonesia menyiapkan langkah jangka panjang untuk menekan emisi gas rumah kaca dari kegiatan operasional perusahaan.

Dalam skenario business as usual atau kondisi tanpa intervensi, emisi perusahaan pada 2050 diperkirakan mencapai 25 juta ton setara karbon dioksida (CO2eq). Melalui peta jalan yang disusun, perusahaan menargetkan penurunan emisi hingga 96 persen pada tahun tersebut, menjadi sekitar 1,7 juta ton CO2eq.

Yehezkiel menjelaskan, strategi penurunan emisi dibagi ke dalam tahapan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Dalam jangka pendek, perusahaan berfokus pada efisiensi energi melalui revitalisasi pabrik dan pengurangan konsumsi gas per ton produk. Langkah ini diharapkan dapat menekan penggunaan energi sekaligus meningkatkan efisiensi produksi.

“Target penurunan konsumsi energi jangka pendek itu memang terkait dengan efisiensi energi melalui revitalisasi pabrik, kemudian menurunkan konsumsi gas per ton produk,” kata Yehezkiel.

Untuk jangka menengah dan panjang, Pupuk Indonesia mengembangkan teknologi rendah karbon, termasuk blue ammonia dan green ammonia, penerapan carbon capture, utilization and storage (CCUS), serta solusi berbasis alam atau nature-based solutions (NBS).

Perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah pihak yang memiliki kapasitas dan kemampuan dalam pengembangan teknologi rendah karbon.

Upaya pengurangan emisi tersebut mulai tercermin dalam capaian perusahaan pada 2025. Pupuk Indonesia mencatat penurunan emisi gas rumah kaca cakupan 1 dan cakupan 2 sebesar 17,47 persen dibandingkan skenario business as usual.

Penurunan tersebut setara dengan 2,25 juta ton CO2eq. Dalam skenario tanpa intervensi, emisi pada 2025 diperkirakan mencapai 12,90 juta ton CO2eq. Namun, realisasi emisi aktual berhasil ditekan menjadi 10,64 juta ton CO2eq.

Cakupan 1 merujuk pada emisi langsung dari kegiatan operasional perusahaan, sedangkan cakupan 2 mencakup emisi tidak langsung dari energi yang dibeli, seperti listrik.

Pupuk Indonesia berupaya menyeimbangkan agenda pengurangan emisi dengan kebutuhan menjaga pasokan pupuk bagi sektor pertanian. Dengan demikian, transformasi menuju industri yang lebih rendah karbon diharapkan tetap berjalan tanpa mengesampingkan keterjangkauan pupuk dan dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.****

Pos terkait