DPR Nilai Pertemuan Prabowo-Menlu Singapura Penting bagi Diplomasi RI

DPR Nilai Pertemuan Prabowo-Menlu Singapura Penting bagi Diplomasi RI

Fajarasia.id — Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta menilai pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan merupakan bagian dari komunikasi strategis untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Menurut Sukamta, Indonesia dan Singapura memiliki hubungan erat di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, investasi, hingga pertahanan dan pemeliharaan stabilitas kawasan.

Ia menyoroti pertemuan tersebut berlangsung atas permintaan pihak Singapura setelah sebelumnya Vivian menggelar pembicaraan bilateral dengan Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir.

“Ini menunjukkan pentingnya komunikasi langsung pada tingkat kepemimpinan kedua negara,” kata Sukamta kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Meski demikian, Sukamta mengaku belum dapat menyimpulkan agenda spesifik yang dibahas Presiden Prabowo dan Vivian. Pasalnya, pertemuan tersebut berlangsung secara tertutup.

Ia menjelaskan, dalam hubungan diplomatik, pertemuan pada tingkat kepala negara dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan yang membutuhkan perhatian serta arahan politik dari pimpinan tertinggi kedua negara.

Sukamta menilai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi menjadi salah satu isu penting dalam hubungan Indonesia dan Singapura. Terlebih, kedua negara sebelumnya telah menyepakati pembentukan satuan tugas (satgas) bersama untuk menangani persoalan tersebut.

Menurut dia, penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Pemerintah juga perlu menelusuri pihak yang bertanggung jawab, pihak yang memperoleh keuntungan, serta aliran dana perusahaan yang diduga terlibat.

“Di sinilah kerja sama Indonesia dan Singapura menjadi sangat relevan. Penegakan hukum terhadap korporasi yang beroperasi lintas negara membutuhkan pertukaran informasi, penelusuran transaksi keuangan, dan kerja sama pembuktian,” ujar Sukamta.

Ia menilai koordinasi lintas negara diperlukan agar penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran yang melibatkan korporasi tidak terhambat oleh batas yurisdiksi.

Kerja sama tersebut, lanjutnya, dapat memperkuat upaya mengungkap tanggung jawab korporasi sekaligus mendorong penanganan karhutla yang lebih menyeluruh.

Sukamta menegaskan hubungan Indonesia dan Singapura perlu terus diperkuat dengan berlandaskan prinsip saling menghormati, kesetaraan, dan keuntungan bersama.

Menurut dia, keberhasilan diplomasi tidak semata-mata diukur dari eratnya hubungan antarnegara, tetapi juga dari manfaat konkret yang dihasilkan bagi kepentingan nasional.

“Bagi Indonesia, ukuran keberhasilan diplomasi bukan sekadar seberapa erat hubungan dengan negara lain, tetapi seberapa besar hubungan itu memberikan manfaat nyata bagi kepentingan nasional dan rakyat Indonesia,” ucapnya.

Ia berharap komunikasi pada tingkat pimpinan kedua negara dapat memperkuat penyelesaian berbagai persoalan bilateral, sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih luas di bidang ekonomi, keamanan, dan lingkungan.****

Pos terkait