Bomber AS Tinggalkan Inggris, Selat Hormuz Kembali Memanas

Bomber AS Tinggalkan Inggris, Selat Hormuz Kembali Memanas

Fajarasia.id  — Amerika Serikat menarik seluruh pesawat pengebom B-1 yang sebelumnya ditempatkan di pangkalan militer RAF Fairford, Inggris. Penarikan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan serangkaian serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Mengutip CNBC International yang melansir Associated Press (AP), Senin (5/10/2026), seluruh B-1 dari RAF Fairford telah dipindahkan kembali ke pangkalan di Amerika Serikat. Informasi itu disampaikan seorang pejabat Pentagon yang tidak berwenang mengungkap pergerakan militer sensitif.

Sebelumnya, pemantau penerbangan militer melihat aktivitas sejumlah pesawat bomber B-52 dan B-1 dari RAF Fairford sejak perang Iran dimulai. Sejumlah B-1 kemudian terlihat meninggalkan pangkalan tersebut pada Minggu.

RAF Fairford berjarak sekitar 160 kilometer sebelah barat London dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu pangkalan penting bagi operasi bomber AS.

Penarikan B-1 dilakukan setelah aparat Inggris menangkap seorang warga berkewarganegaraan ganda Inggris-Iran di London. Dia diduga terkait rencana serangan teror yang berkaitan dengan insiden keamanan di sekitar RAF Fairford pada akhir September.

Sebanyak enam orang sempat ditahan dalam penyelidikan tersebut, sebelum kemudian dibebaskan dengan jaminan. Pemerintah Inggris mengaitkan dugaan rencana serangan dengan Iran. Namun, Tehran membantah keterlibatannya.

Di tengah perkembangan itu, keamanan jalur pelayaran di kawasan juga menjadi perhatian. United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan sedikitnya dua kapal terkena serangan dalam dua hari terakhir di perairan sekitar Oman dan Iran.

Pada Sabtu, sebuah kapal tanker minyak mentah dilaporkan terkena proyektil tak dikenal sekitar empat mil laut dari pantai Oman. Sehari kemudian, kapal tanker lain dilaporkan diserang di Selat Hormuz hingga mengalami kerusakan pada ruang mesin.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia. Sebelum perang AS dan Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dunia disebut melewati jalur tersebut.

Iran juga kembali menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka sepenuhnya sebelum sejumlah tuntutannya dipenuhi. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyebut terdapat tujuh syarat, termasuk penghentian agresi AS, blokade laut terhadap pelabuhan Iran, serta pembebasan aset Iran.

Ketegangan juga meluas ke Arab Saudi. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengklaim melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke fasilitas perusahaan minyak Aramco di Riyadh.

Houthi menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan Arab Saudi terhadap Sanaa dan sejumlah wilayah lain di Yaman. Namun, pemerintah Arab Saudi dan Aramco belum memberikan tanggapan mengenai klaim tersebut.

Rangkaian insiden itu menambah kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis dan pasokan energi berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian global.

Harga minyak pun sempat melonjak akibat meningkatnya ketegangan. Pada Jumat, harga Brent ditutup pada US$102,25 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,11 per barel.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah kini tidak hanya menjadi persoalan militer. Keamanan pelayaran, harga energi, dan stabilitas ekonomi global turut berada dalam tekanan.****

Pos terkait