Fajarasia.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) turut dirasakan kuat di wilayah Kabupaten Bima dan Kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Gempa terjadi sekitar pukul 05.58.23 WITA dengan pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, NTT, pada kedalaman 15 kilometer.
Berdasarkan laporan awal Pusdalops BPBD Kabupaten Bima hingga pukul 12.30 WITA, guncangan dirasakan di Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.
Getaran dilaporkan cukup kuat hingga membuat benda dan bangunan di dalam rumah bergetar. Sejumlah warga juga merasakan guncangan ketika berada di luar rumah. Pintu dan jendela dilaporkan berderik, sementara suara dari bagian dinding bangunan terdengar saat gempa berlangsung.
Hasil analisis BMKG menyebutkan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Pemodelan BMKG juga menunjukkan adanya potensi tsunami setelah gempa tersebut.
Kondisi tersebut membuat warga yang tinggal di wilayah pesisir Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih tinggi.
Sekitar 300 warga dari Desa Sangia, Poja, dan Bugis di Kecamatan Sape serta Desa Lambu di Kecamatan Lambu dilaporkan mengungsi secara mandiri sebagai langkah antisipasi.
Selain memicu kepanikan, gempa juga menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan di Kabupaten Bima.
Di Kecamatan Lambitu, Kantor Camat Lambitu dilaporkan mengalami keretakan pada dinding aula dengan panjang sekitar tiga meter.
Sementara itu, sebuah rumah panggung milik warga bernama M Saleh di Dusun Moti, Desa Soro, Kecamatan Lambu, roboh dan mengalami rusak berat.
Di Desa Bugis, Kecamatan Sape, seorang warga bernama Damar (21) mengalami luka robek pada kaki ketika terjadi kepanikan. Korban kemudian mendapat perawatan di Puskesmas Sape.
Kerusakan lainnya dilaporkan terjadi di Desa Rabakodo, Kecamatan Woha. Bagian dapur rumah milik M Nasir roboh dan dikategorikan rusak sedang.
Kondisi serupa terjadi di Desa Tolotangga, Kecamatan Monta. Bagian dapur rumah milik Mustamin (72) roboh dan mengalami kerusakan sedang.
Hingga laporan awal tersebut diterbitkan, belum ada korban jiwa yang dilaporkan di Kabupaten Bima.
BPBD Kabupaten Bima melaporkan kebutuhan mendesak bagi warga yang melakukan evakuasi mandiri berupa makanan siap saji.
Dinas Sosial Kabupaten Bima telah menyalurkan bantuan nasi kepada warga yang mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi.
BPBD bersama pemerintah kecamatan, kepolisian, TNI, dan pemerintah desa terus melakukan pemantauan, pendataan, kaji cepat, serta penanganan terhadap dampak gempa.
Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga diimbau tidak memasuki bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan.
BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait gempa dan potensi tsunami.
Informasi mengenai perkembangan gempa dan potensi tsunami diimbau hanya diperoleh melalui kanal resmi pemerintah dan BMKG.
Pendataan serta pemantauan terhadap dampak gempa di wilayah Kabupaten Bima masih terus dilakukan.***





