Rupiah Melemah, Harga Barang Mulai Merangkak

Rupiah Melemah, Harga Barang Mulai Merangkak

Fajarasia.id  – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan dunia usaha. Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan harga sejumlah barang, terutama produk impor, telah mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Umum Hippindo, Budihardjo Iduansjah, mengatakan penyesuaian harga sebenarnya sudah berlangsung sejak satu hingga dua bulan lalu. Karena itu, kenaikan harga bukan lagi sekadar proyeksi pada akhir tahun, melainkan telah terjadi di pasar.

“Kalau dolar nantinya turun, tentu penyesuaian harga juga akan mengikuti. Namun saat ini kenaikan memang sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu,” ujar Budihardjo usai menghadiri pertemuan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8/2026).

Menurutnya, produk impor menjadi kelompok barang yang paling terdampak akibat melemahnya kurs rupiah. Kenaikan harga yang terjadi saat ini diperkirakan berada pada kisaran 5 hingga 10 persen.

Meski menghadapi tekanan kurs, pelaku usaha ritel menilai stabilitas nilai tukar jauh lebih penting dibandingkan besaran kurs itu sendiri. Dengan kurs yang stabil, perusahaan dapat menyusun perhitungan biaya dan menentukan harga jual secara lebih terukur.

Budihardjo menjelaskan, fluktuasi nilai tukar yang tajam membuat dunia usaha kesulitan menjaga kepastian harga. Untuk mengurangi dampaknya, pelaku ritel berupaya meningkatkan efisiensi operasional, termasuk memanfaatkan perkembangan teknologi agar kenaikan harga di tingkat konsumen dapat ditekan.

Di sisi lain, tekanan biaya juga mulai menggerus keuntungan perusahaan. Meski nilai penjualan masih menunjukkan pertumbuhan, margin laba mengalami penyusutan karena banyak pelaku usaha memilih mempertahankan daya beli masyarakat melalui program diskon dan promosi.

Strategi tersebut dinilai penting untuk menjaga volume penjualan di tengah meningkatnya biaya impor dan melemahnya daya beli sebagian konsumen. Namun konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya.

Budihardjo menambahkan, pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya pengadaan barang impor. Meski demikian, pelaku usaha berusaha agar kenaikan harga tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen sehingga sebagian tekanan biaya harus diserap oleh perusahaan.

Hippindo berharap nilai tukar rupiah dapat kembali bergerak lebih stabil sehingga dunia usaha memiliki kepastian dalam menyusun strategi bisnis, menjaga harga tetap kompetitif, serta mempertahankan daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi global.****

Pos terkait