Fajarasia.id – Pemerintah Singapura resmi mengambil alih rumah peninggalan pendiri negara, Lee Kuan Yew, sekaligus mengakhiri sengketa keluarga yang telah berlangsung hampir satu dekade. Langkah tersebut diambil untuk menjaga bangunan bersejarah itu sebagai bagian dari warisan nasional.
Dalam pernyataan bersama, Otoritas Pertanahan Singapura (SLA) dan Dewan Warisan Nasional (NHB) menyebut pengambilalihan dilakukan karena rumah tersebut memiliki nilai sejarah yang penting bagi perjalanan bangsa Singapura.
“Pemerintah mengambil alih situs tersebut untuk melestarikannya sesuai dengan signifikansi sejarah dan kepentingan nasionalnya,” demikian pernyataan resmi kedua lembaga tersebut.
Perselisihan mengenai rumah yang berada di kawasan pusat Singapura itu mencuat sejak 2015, tidak lama setelah Lee Kuan Yew wafat. Putra sulungnya, Lee Hsien Loong, menginginkan bangunan tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah nasional.
Sebaliknya, dua adiknya, Lee Hsien Yang dan mendiang Lee Wei Ling, berpendapat rumah itu seharusnya dihancurkan sesuai dengan isi surat wasiat sang ayah. Mereka menilai pembongkaran merupakan cara untuk menghormati keinginan Lee Kuan Yew dalam menjaga privasi keluarga.
Pemerintah menyatakan Dewan Warisan Nasional akan melakukan kajian mendalam terhadap situs tersebut sebelum menentukan pemanfaatannya di masa depan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menjadikan lokasi itu sebagai ruang publik tanpa mengabaikan pesan Lee Kuan Yew mengenai pentingnya privasi.
Rumah bergaya bungalow dua lantai tersebut memiliki nilai historis yang tinggi. Pada dekade 1950-an, bangunan itu menjadi tempat berbagai pertemuan penting yang berkaitan dengan perjuangan Singapura menuju kemerdekaan dari Inggris. Lee Kuan Yew juga diketahui menempati rumah tersebut sejak pertengahan 1940-an hingga akhir hayatnya.
Selain memiliki nilai sejarah, properti itu diperkirakan bernilai sekitar 30 juta dolar Singapura atau setara lebih dari Rp414 miliar.
Keputusan pemerintah mengambil alih aset tersebut dinilai menjadi penutup konflik panjang di antara keluarga Lee Kuan Yew yang selama bertahun-tahun diwarnai perbedaan pandangan mengenai warisan sang pendiri negara. Sementara itu, Lee Hsien Yang diketahui masih berada di luar negeri sejak 2022 di tengah dinamika yang berkembang terkait perselisihan tersebut.***





