Fajarasia.id – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memastikan penyelesaian persoalan utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) masih terus berjalan. Pemerintah disebut tengah menyiapkan langkah penataan yang diharapkan dapat memberikan kepastian terhadap keberlanjutan proyek strategis tersebut.
Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, meminta publik bersabar karena proses pembenahan tidak hanya menyangkut proyek kereta cepat, tetapi juga sejumlah persoalan keuangan di berbagai badan usaha milik negara (BUMN).
“Problem-problem ini sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang sangat besar. Semuanya harus dibereskan satu per satu,” ujar Dony Sabtu (1/8).
Pernyataan tersebut muncul di tengah membengkaknya kerugian yang ditanggung konsorsium BUMN dalam proyek Whoosh. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim PT Kereta Api Indonesia (Persero) hingga 30 Juni 2026, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) mencatat rugi bersih sebesar Rp5,13 triliun hanya dalam enam bulan pertama tahun ini. Nilai itu bahkan melampaui total kerugian sepanjang 2025 yang mencapai Rp4,99 triliun.
Sebagai pemegang saham mayoritas PSBI dengan kepemilikan 58,53 persen, PT Kereta Api Indonesia (Persero) turut menanggung beban terbesar. Perseroan mencatat porsi kerugian dari investasi di proyek Whoosh mencapai sekitar Rp3 triliun pada semester pertama 2026.
Dony mengungkapkan, Danantara juga sedang menyelesaikan persoalan keuangan di sejumlah BUMN lain, termasuk PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Adhi Commuter Properti Tbk. Menurutnya, seluruh persoalan tersebut merupakan pekerjaan yang harus ditata secara bertahap.
Ia belum merinci skema penyelesaian utang proyek Whoosh. Namun, Dony mengisyaratkan pemerintah tengah menyiapkan mekanisme pengambilalihan (take over) terhadap proyek tersebut sebagai bagian dari upaya restrukturisasi.
“Insya Allah kemungkinan akan dilakukan dengan pola demikian. Mudah-mudahan dalam beberapa minggu ini akan segera beres,” katanya.
Rencana tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa pemerintah berupaya memperkuat struktur pembiayaan proyek kereta cepat sekaligus mengurangi tekanan terhadap neraca perusahaan-perusahaan BUMN yang selama ini menjadi pemegang saham. Kepastian mengenai skema restrukturisasi kini menjadi perhatian pelaku usaha dan investor, mengingat proyek Whoosh merupakan salah satu investasi infrastruktur terbesar yang melibatkan Indonesia dan China.***





