Fajarasia.id – Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru sekaligus menjadi perempuan pertama yang terpilih melalui pemilihan umum untuk memimpin negara Amerika Selatan tersebut. Pada hari pertama menjabat, ia langsung menetapkan status darurat nasional dan mengerahkan militer untuk membantu memulihkan keamanan di wilayah-wilayah yang dilanda tingginya angka kriminalitas.
Dalam pidato pelantikannya di Lima, Selasa (29/7) waktu setempat, Fujimori menyatakan Peru tengah menghadapi situasi yang sangat berat. Menurutnya, pemerintah baru menerima kondisi negara yang “katastrofik”, namun tetap memiliki peluang besar untuk bangkit.
Selama masa darurat nasional, angkatan bersenjata akan mengambil alih sementara kepemimpinan operasi keamanan di sejumlah daerah yang dinilai rawan kejahatan hingga situasi kembali terkendali.
Kebijakan tersebut menjadi langkah awal pemerintahan Fujimori dalam memenuhi janji kampanyenya yang berfokus pada pemberantasan kriminalitas. Ia menilai meningkatnya aksi pembunuhan, pemerasan, dan aktivitas kelompok kriminal telah menciptakan krisis keamanan yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir di Peru.
Keiko Fujimori memenangkan pemilihan presiden putaran kedua yang berlangsung pada Juni lalu setelah mengungguli kandidat berhaluan kiri, Roberto Sánchez. Kemenangan itu sekaligus mengakhiri upaya panjangnya setelah tiga kali gagal dalam kontestasi pemilihan presiden sebelumnya.
Selain menempatkan isu keamanan sebagai prioritas utama, Fujimori juga menjanjikan berbagai langkah untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintahannya berkomitmen meningkatkan upah minimum, memperkuat perlindungan masyarakat dari dampak fenomena cuaca El Niño, serta mengurangi kesenjangan ekonomi yang masih menjadi salah satu persoalan terbesar di Peru.
Pelantikan Fujimori berlangsung di tengah dinamika politik yang masih bergejolak. Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, Peru telah berganti pemimpin sebanyak sepuluh kali, mencerminkan tingginya ketidakstabilan politik yang melanda negara tersebut.
Sejumlah pemimpin negara turut menghadiri prosesi pelantikan di Lima, termasuk kepala negara dan pejabat tinggi dari Argentina, Ekuador, dan Chile. Pemerintahan baru Fujimori kini dihadapkan pada tantangan besar untuk memulihkan stabilitas keamanan sekaligus mengembalikan kepercayaan publik terhadap pemerintahan setelah bertahun-tahun dilanda krisis politik dan sosial.***





