Tunanetra Lantunkan Gending Gender Bali

Tunanetra Lantunkan Gending Gender Bali

Fajarasia.id – Keterbatasan fisik tak menghalangi niat penyandang tunanetra untuk menikmati seni. Keinginan ini ditangkap para mahasiswa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) yang tergabung dalam tim PKM-PM.

Mereka adalah Putu Listya Candra Dewi, Dewa Ayu Kartika Pratiwi, Kadek Dwika Darma Widyaputra, Ni Putu Martha Pebrianti, dan Putu Jessie Ardi Sudira. Mereka menggelar ‘Penguatan Potensi bagi Penyandang Tunanetra dalam Memainkan Alat Musik Gender Bali dengan Media Audiobook di Yayasan Teratai’.

Listya, Ketua Tim, mengatakan kegiatan ini bertujuan memberdayakan penyandang tunanetra dalam memainkan gender di Sesetan, Denpasar Selatan, Bali. Ini menjadi langkah revolusioner dalam mengembangkan keterampilan di bidang musik tradisional.

“Kita sebagai anak muda wajib ikut melestarikan kebudayaan-kebudayaan, khususnya di daerah kita, yaitu Bali,” ujarnya pada wartawan, Kamis (5/10/2023).

Listya menjelaskan pemilihan alat musik gender Bali guna melestarikan warisan gamelan tradisional Bali. Gender memiliki suara indah dan khas.

Dimainkan dengan dua tangan secara bersamaan, gender mampu menghasilkan harmoni yang memukau. Melantunkan suara gender, tidak hanya sekadar memahami notasi gending Bali.

Pemainnya juga harus berkonsentrasi tinggi dalam memukul nada gender. Ini melatih keseimbangan otak kiri dan kanan serta keluwesan tangan saat menari di atas bilah-bilah gender.

“Mengapa gender dipilih? Karena gender salah satu gamelan tua, warisan budaya Bali. Dalam inovasi ini, kita gunakan audiobook untuk membantu mereka dalam berlatih,” kata Listya.

Dara kelahiran Denpasar itu menerangkan tahapan pelatihan yang disesuaikan dengan gaya belajar penyandang tunanetra. Tahapannya yaitu auditori (mendengar), taktil (belajar dengan mengutak-atik sesuatu), dan kinestetik (menyentuh dan merasakan).

Para penyandang tunanetra memulainya dengan metode dengar, raba, dan mainkan. Dalam pelatihan tersebut, para penyandang tunanetra diajarkan melantunkan gending Tulang Lindung.

“Pertama di tahap dengar, mendengarkan materi yang sudah kita input ke audiobook. Setelah itu meraba, meraba fitur-fitur pada audiobook dan alat musik gender. Terakhir mainkan, ini sudah berada di tahap memainkan Gender,” kata Listya.

Selama proses pelatihan, Listya bersama tim dihadapkan dengan berbagai tantangan. Salah satunya, keterbatasan penyandang tunanetra dalam memahami dan menggunakan alat musik tersebut.

Namun berkat kerja sama tim, kendala itu dapat disiasati. Mereka menggunakan pengulangan dalam pembelajaran.

“Masing-masing orang itu kan punya daya tangkap yang berbeda-beda. Ada yang sekali dipraktikkan, kita bantu arahkan tangannya, sudah ada yang langsung paham,” katanya.

“Tapi ada juga setelah kita coba berkali-kali, masih ada yang bingung. Terutama saat meletakkan tangannya di bilah-bilah gender,” kata Listya mengakhiri.

Ke depan, inovasi ini akan dikembangkan pada alat musik tradisional Bali lainnya. Ia berharap media ini mampu menjadi bukti konkret potensi penyandang disabilitas yang tidak terbatas.***

Pos terkait