Fajarasia.id – Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing menghasilkan kesepakatan strategis di sektor energi. China disebut akan meningkatkan impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara besar-besaran, di tengah guncangan pasokan global akibat konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi AS Chris Wright menyebut kerja sama ini sebagai hubungan dagang yang “alami” karena kedua negara saling melengkapi: AS sebagai produsen minyak terbesar dunia, sementara China adalah importir terbesar. “Saya menduga kita akan melihat pertumbuhan dalam impor minyak mereka dari Amerika Serikat,” ujar Wright sebagaimana dikutip Redaksi pada Minggu (17/5/2026).
Trump sendiri mengonfirmasi bahwa Beijing telah menyetujui pembelian minyak dalam jumlah besar dari Texas, Louisiana, hingga Alaska. “Mereka akan mulai mengirim kapal-kapal China ke Amerika Serikat,” kata Trump kepada Fox News.
Langkah ini muncul setelah Iran melakukan blokade total di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Aksi tersebut memicu gangguan energi terbesar dalam sejarah modern dan mendorong negara-negara Teluk mencari jalur alternatif.
China, yang selama ini bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, kini mengalihkan fokus ke Amerika Serikat. Dengan cadangan strategis yang besar, Negeri Tirai Bambu mampu bertahan sementara, namun kerja sama dengan Washington dipandang sebagai solusi jangka panjang.
Wright menilai, blokade Iran akan mengubah peta logistik energi dunia secara permanen. “Ini adalah kartu yang hanya bisa dimainkan sekali,” ujarnya.****





