Fajarasia.id – Suara guntur yang biasanya hanya dianggap fenomena alam, kini menjadi sumber ketakutan bagi anak-anak di Desa Simpang Tiga Rampah, Citahuis, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara. Pasca banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan desa mereka, suara petir seakan membawa kembali ingatan pahit akan bencana.
Puluhan rumah hancur, ratusan warga mengungsi, dan sejumlah korban jiwa jatuh ketika hujan deras disertai petir mengguncang desa beberapa minggu lalu. Kini, setiap kali hujan turun, anak-anak langsung diliputi rasa panik.
“Anak-anak kami trauma bila mendengar petir. Saat hujan turun mereka sangat ketakutan,” ungkap Megawati Silalahi, warga setempat, Jumat (12/12/2025).
Megawati bersama ratusan warga lain masih bertahan di pengungsian SD Negeri Simpang Rampah. Rumah mereka rusak parah dan tidak layak huni. Kepala desa pun mengimbau agar warga segera mencari tempat aman setiap kali hujan turun, terutama bagi mereka yang tinggal di rumah rawan longsor.
Fenomena ketakutan berlebihan terhadap suara petir dikenal sebagai Astrafobia. Menurut penjelasan medis, kondisi ini bisa dialami anak-anak maupun orang dewasa, ditandai dengan kecemasan ekstrem saat badai petir. Meski tidak diakui sebagai diagnosis resmi, fobia ini dapat diatasi dengan penanganan psikologis.
Kini, di tengah keterbatasan di pengungsian, anak-anak desa masih berjuang melawan rasa takut yang muncul setiap kali langit bergemuruh. Trauma itu menjadi luka batin yang tak kalah berat dibanding kerugian fisik akibat bencana.****





