Fajarasia.id – Platform e-commerce di China kini menerapkan strategi unik untuk menghadapi pembeli yang kerap menyalahgunakan kebijakan retur tujuh hari tanpa syarat. Sejumlah toko online mulai memasang gembok kombinasi pada resleting pakaian, terutama mantel dan busana premium, serta menambahkan label berukuran besar dengan peringatan khusus.
Langkah ini ramai diperbincangkan selama festival belanja Double 11, ketika kasus pengembalian barang meningkat tajam. Seorang penjual di Beijing menjelaskan bahwa kode gembok baru diberikan setelah pembeli memastikan tidak akan mengembalikan produk. Tujuannya menekan praktik yang dikenal sebagai shearing the sheep, yakni memakai pakaian gratis selama beberapa hari sebelum dikembalikan.
Aturan retur tujuh hari yang berlaku sejak revisi Undang-Undang Perlindungan Konsumen 2014 sejatinya dibuat untuk melindungi pembeli. Namun, sebagian konsumen memanfaatkannya untuk menjadikan toko online sebagai “lemari pakaian gratis”.
Kasus serupa pernah mencuat pada 2024, ketika sekelompok mahasiswa mengembalikan tujuh kostum dalam kondisi kotor setelah dipakai. Platform tetap mengembalikan uang mereka sepenuhnya. Tahun berikutnya, sebuah brand desainer melaporkan grup musik Wutiaoren yang mengembalikan dua jaket senilai 6.000 yuan (Rp14 juta) setelah dipakai tampil. Stylist band itu kemudian meminta maaf dan menawarkan kompensasi.
Menurut laporan Yangtse Evening Post, banyak penjual menilai platform e-commerce lebih berpihak kepada pembeli. Proses banding bisa dilakukan, tetapi memakan waktu dan tenaga, serta tidak selalu menghasilkan keputusan memuaskan.
Data dari 36Kr menunjukkan tingkat retur pakaian wanita mencapai 50–60 persen. Pengembalian setelah dipakai paling sering terjadi pada gaun formal dengan harga terjangkau.
Pengacara Wang Weiwei dari Beijing Zhongwen Law Firm menegaskan bahwa pembeli wajib menjaga kondisi barang tetap sempurna. Jika tidak, toko berhak menolak permintaan pengembalian dana.
Sementara itu, sejumlah warganet mendukung strategi label besar. “Saya sering melihat orang bepergian memakai pakaian baru dengan label harga belum dilepas. Sebagai konsumen, saya tidak suka perilaku itu karena takut membeli pakaian bekas pakai,” tulis seorang pengguna media sosial.****




