Fajarasia.id – Beredar video viral yang memperlihatkan seorang perempuan pengunjung Mie Gacoan pingsan lantaran diduga tak kuat menahan lapar saat mengantre. Perempuan berinisial A (18) itu kemudian dibawa petugas kesehatan dengan ambulans untuk dirujuk ke Puskesmas Ngumpak Dalem, Bojonegoro, Jawa Timur.
Praktisi Marketing dan Behavioral Science, Ignatius Untung mengatakan apa yang terjadi di gerai Mie Gacoan diduga merupakan praktek marketing dengan istilah bandwagon. Bandwagon effect mempengaruhi persepsi konsumen dan mendorong mereka untuk bergabung atau memilih brand tersebut.
Mie Gacoan memang kerap virak di media sosial karena rasa pedas dengan berbagai merek, harga terjangkau dan cara penyajiannya. Dalam konteks pemasaran, bandwagon effect dimanfaatkan oleh brand untuk menciptakan kesan bahwa produk atau layanan mereka sedang digemari dan diikuti banyak orang.
“Masyarakat sangat mudah terpengaruh oleh suatu fenomena yang kemudian mengikutinya sebagai sebuah tren. Kalau tidak mengikuti tren tersebut akan dianggap ketinggalan,” kata Ignatius Untung dalam sebuah rilisnya pada Jumat (10/5/2024).
“Selain itu, ada juga presepsi di masyarakat kita, jika sebuah restoran ramai dengan antrean pasti enak. Padahal belum tentu semua orang mentakan itu,” ujarnya.
” Inilah, katanya, yang terjadi dalam fenomena Mie Gacoan. Apalagi, sebutnya, antrean yang terjadi di gerai-gerai restoran tersebut di besarkan oleh sosial media.
Untung berharap para markerter dalam melakukan praktek-praktek marketing harus memperhatikan soal etika dan nurani. Artinya, jangan sampai sebuah praktek marketing yang dijalankan malah berbuntut menyebabkan insiden atau dampak yang merugikan masyarakat.
Brand dan para merkerternya harus mengingat hal penting bahwa bandwagon effect tidak selalu memberikan manfaat yang positif bagi brand. Strategi ini juga dapat memiliki beberapa kelemahan dan risiko.
“Bisa saja masyarakat melihat kejadian seorang perempuan pingsan saat mengantre Mie Gacoan karena unsur kesengajaan. Yakni seperti sengaja menciptaklan antrean dengan cara tertentu, maka itu akan berdampak buruk terhadap brand tersebut,” katanya menjelaskan.***





