Pesona budaya Indonesia dalam layar film

Pesona budaya Indonesia dalam layar film

Fajarasia.id – Film Indonesia tidak hanya mempersembahkan hiburan, tetapi juga sebagai jembatan yang menghadirkan pesona budaya dan keajaiban alam di Tanah Air. Pesona inilah yang, antara lain, mengundang penonton betah menjelajahi keunikan Indonesia lewat layar.

Dengan visual yang memukau dan kisah yang memikat, film-film Indonesia menjadi jendela terbuka bagi pandangan global tentang kehidupan, tradisi, dan nilai-nilai yang kaya negeri ini. Melalui setting yang autentik, bahasa lokal, dan melibatkan tema-tema budaya yang khas, film-film Indonesia muncul sebagai duta luar biasa yang memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara ke dunia.

Lebih dari sekadar sumber hiburan, film-film negeri ini bahkan menjadi instrumen pendidikan yang efektif tentang kebudayaan Indonesia. Dengan menampilkan kekayaan tradisi lokal, pakaian adat, tarian tradisional, makanan khas, hingga pariwisata, film-film lokal memberikan wawasan mendalam tentang keanekaragaman budaya Indonesia.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) Hilmar Farid menyatakan kepada Wartawan bahwa film Indonesia saat ini menampilkan keberagaman yang luar biasa, baik dari segi genre, tema, maupun latar belakang.

Menurut Hilmar, terdapat banyak film yang memilih setting di berbagai daerah dengan kekayaan alam dan budaya yang sangat beragam.

Dalam konteks ini, film tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi jendela yang membuka cakrawala bagi penonton untuk mengenal lebih dalam tentang keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia.

Dengan menggambarkan keberagaman ini melalui narasi atau cerita yang kuat, film Indonesia efektif dalam menjalankan peran diplomasi budaya, memperkenalkan keragaman Indonesia kepada dunia.

Dukungan pemerintah

Pemerintah Kemendikbud Ristek menunjukkan dukungannya terhadap perkembangan perfilman Indonesia melalui berbagai program inovatif. Program-program tersebut meliputi laboratorium untuk penulisan naskah, fasilitas produksi film, dukungan pemutaran film, hingga distribusi film di luar negeri.

Selain itu, Kemendikbud Ristek juga fokus pada promosi kearifan lokal dan kekayaan boga atau kuliner Indonesia melalui sejumlah film dokumenter yang menampilkan warisan budaya, terutama dalam konteks makanan dan gastronomi.

Kemudian, Pemerintah juga terus memberikan dukungan yang kuat bagi para pembuat film yang ingin memperkenalkan karya-karya mereka di panggung internasional melalui berbagai jalur, seperti festival film, pemutaran film, dan distribusi, Kemendikbud Ristek telah memberikan bantuan kepada para sineas Indonesia.

Saat ini, karya-karya film Indonesia telah meramaikan panggung festival film internasional terkemuka, termasuk Cannes, Locarno, Berlinale, Busan, dan banyak lagi, dengan total partisipasi di lebih dari 24 festival film internasional yang bergengsi.

Oleh karena itu, dalam rangka memperingati Hari Film Nasional (HFN) 2024, Hilmar berharap agar keragaman film Indonesia dapat terus berkembang dan mencapai berbagai kalangan masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri.

“Saya berharap keragaman film Indonesia bisa terus berkembang dan menjangkau semua lapisan masyarakat baik di dalam maupun luar negeri. Indonesia punya begitu banyak cerita untuk ditawarkan kepada dunia,” kata Hilmar.

Budaya dalam film

Aktris Clara Bernadeth menyoroti bagaimana generasi muda sering kali terpapar budaya Barat atau Korea, terutama melalui film-film yang populer, yang dampaknya juga mempengaruhi cara berpikir, selera, hingga bertindak kaum muda.

Clara menekankan bahwa film-film Korea sering kali memperkenalkan unsur-unsur kuliner atau makanan Korea, yang kemudian membuat penonton merasa ingin mencicipi makanan tersebut. Dari situlah Clara melihat kekuatan film sebagai media yang sangat efektif dalam menyampaikan budaya suatu negara ke penonton di seluruh dunia.

Selain itu, sebagai seorang aktris, dia senang ketika mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam film-film yang memperkenalkan budaya Indonesia.

Salah satunya, Clara juga ikut terlibat dalam projek “Mustika Rasa Kini” (MRK) yang diinisiasi oleh Kemendikbud Ristek berkolaborasi dengan Ruang Basbeth Bercerita sebagai upaya untuk menggali, meneliti, dan membandingkan resep-resep masakan tradisional Indonesia dari masa lalu hingga masa kini.

Clara pun berharap akan lebih banyak lagi budaya, hingga kuliner di Indonesia yang bisa disebarkan melalui film.

Proses pembuatan film

Sutradara sekaligus pendiri “Ruang Basbeth Bercerita” Ismail Basbeth mengungkapkan bahwa membuat film bukanlah perkara yang mudah. Meskipun belajar dan membuat film bisa dianggap sebagai pencapaian, terkadang ada perasaan kurang puas.

Karena, film tidak sekadar produk seni, tetapi juga memiliki aspek sastra yang mendalam. Ketika merasa kebingungan dalam proses pembuatan film, Ismail Basbeth mencoba untuk menggali cerita.

Dalam upayanya menciptakan ruang untuk bercerita, ia bermain dengan ide bersama teman-temannya. Ide memiliki kekuatan seperti virus yang bisa berkembang ketika ditularkan dan melibatkan banyak orang.

Dalam proses pembuatan film diperlukan tim yang kompak dan saling memahami sehingga ide dapat terus dikembangkan dan diperbaiki melalui diskusi. Ismail Basbeth percaya bahwa dengan menjalankan program ini bersama banyak orang maka dapat saling mendukung dan menginspirasi satu sama lain dalam proses kreatif di dalamnya.

Seorang produser Lyza Anggraheni menyatakan bahwa meskipun tidak menjadi produser banyak film, ia memiliki keinginan untuk menjadi produser film-film yang penting, terutama untuk anak-anak dan pendidikannya.

Lyza merasa terpanggil untuk terlibat dalam projek seperti “Mustika Rasa” karena sebagai seorang ibu, ia menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan anak-anak.****

 

Pos terkait