Fajarasia.id – Penggunaan energi fosil di Indonesia tergolong masih tinggi. Buktinya, penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) Indonesia tahun 2022 masih 12,3 persen, padahal targetnya sebesar 15 persen.
Inspektur Panas Bumi Ditjen EBTKE, Kementerian ESDM Pandu Ismutadi menjelaskan, penggunaan minyak bumi dan batu bara masih mendominasi. “Bahkan EBT untuk listrik baru 0,34 persen, satu persen saja belum, sementara potensinya 12,63 Giga Watt,” katanya dalam Diskusi Publik INDEF,Rabu (15/11/2023).
Pandu merinci, ketergantungan penggunaan energi di Indonesia terhadap minyak bumi masih 32,2 persen. Sementara ketergantungan pada batu bara 37,2 persen, dan gas 18,9 persen.
Ia menambahkan, konsumsi BBM kini mencapai 1,5 juta barel per hari. Sedangkan ladang-ladang minyak hanya mampu berproduksi 700 ribu-800 ribu barel per hari.
“Jadi kita masih tekor untuk memenuhi konsumsi BBM,” ujarnya. “Cadangan devisa untuk membeli BBM itu sekitar Rp140 triliun, sedangkan subsidi energi tahun 2022 mencapai Rp502 triliun”.
Pandu menekankan, perlu ada kebijakan energi untuk meminimalkan fluktuasi harga dan pemenuhan penggantian minyak dan gas bumi. Saat ini cadangan operasional BBM hanya untuk 23 hari, itu pun belum ada cadangan penyangga energi.
“Pemerintah berkomitmen untuk melakukan transisi energi secara bertahap sesuai pembiayaan dan infrastrukturnya. Target bauran energi kita sebesar 23 persen EBT harus tercapai di tahun 2025,” ucap Pandu.*****





