Fajarasia.id – Warga kota Hangzhou merasa bangga melihat kemeriahan upacara pembukaan Asian Games, Sabtu (23/9/2023) kemarin. Mereka yakin sukses tersebut akan jadi barometer bagi penyelenggaraan berbagai pesta olahraga selanjutnya.
“Saya kira kami telah membuat benchmark yang cukup tinggi,” kata Ma Lin yang menyaksikan melalui acara nonton bareng di Pengbo, pinggiran kota Hangzhou. “Kita bisa membuat sebuah pembukaan yang hebat tapi juga hemat dan ramah lingkungan.”
Ma mengaku sangat terkesan dengan teknik penyalaan obor tanda pesta dibuka. “Saya hampir tidak menyadari kalau itu dilakukan secara digital,” ujar mahasiswa di Universitas Zhejiang itu.
Sha Xiaolan, direktur eksekutif upacara pembukaan, sejak awal memang menjanjikan Asian Games yang “mengambil satu langkah lebih maju”. Ini tak lepas dari citra Hangzhou sendiri sebagai kota hijau dan futuristik.
Hasilnya adalah sebuah upacara pembukaan yang megah di Stadion Olimpiade Hangzhou. Stadion yang sering disebut sebagai “Teratai Besar” itu seperti disulap jadi benda dari masa depan yang penuh cahaya.
Pembukaan Asian Games kali ini menjadi momen penting dalam sejarah olahraga. Ketika pembawa obor digital berpartisipasi dalam penyalaan api di kaldron.
Bayangkan, tak hanya atlet sang pembawa obor yang memantik nyala apinya. Tapi juga lebih dari 100 juta orang yang bergabung dalam platform digital untuk menyalakannya secara kolektif.
“Ini mencerminkan kepercayaan budaya kami tentang kebersamaan,” kata Sha lagi. “Partisipasi kolektif masyarakat dalam penyalaan kaldron juga melambangkan visi komunitas manusia dengan masa depan bersama.”
Sha mengungkapkan, selama tiga tahun persiapan, tim mengadakan lebih dari 500 pertemuan. Mereka juga menjalani lebih dari 70 simulasi.
“Saya ingin berterima kasih kepada tim saya atas upaya luar biasa ini,” Sha menegaskan. “Malam ini kami ‘mengambil satu langkah lebih maju’ dibandingkan edisi sebelumnya.”
Selama 100 hari terakhir persiapan, Sha menyebut timnya banyak melakukan perubahan. Terutama dalam pemanfaatan teknologi augmented reality (AR).”
Teknologi AR memang ditampilkan secara menonjol pada upacara pembukaan ini. Termasuk kubah buatan AR yang menampilkan peralatan olahraga terbang dan air terjun yang berfungsi sebagai latar belakang para pemain hoverboard selama pesta.
Meng Ke, petinggi panitia pelaksana Asian Games (HAGOC), menyoroti integrasi sempurna antara olahraga dan teknologi. “Ini pertama kalinya teknologi pertunjukan udara 3D digunakan di stadion besar. Ini upaya luar biasa untuk menghasilkan tampilan yang enerjik dan menghentak,” katanya.
Direktur eksekutif HAGOC, Gao Yan, juga bangga. “Kecemerlangan di atas panggung adalah hasil dari latihan panjang. Mayoritas penampilnya para mahasiswa. Bagi mereka, tetap berkomitmen untuk suksesnya acara ini sungguh bukan hal mudah,” katanya, menegaskan.****





