Niat Kritik Jokowi, AHY Malah Kritik Bandara Kertajati Proyek Warisan Ayahnya SBY yang sempat Mangkarak

Niat Kritik Jokowi, AHY Malah Kritik Bandara Kertajati Proyek Warisan Ayahnya SBY yang sempat Mangkarak

Fajarasia.id  – Pernyataan terbaru dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), soal Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati memicu sorotan publik. Dalam sebuah kesempatan, AHY menyebut lokasi bandara tersebut berada “di tengah-tengah antah berantah”, menyoroti minimnya penerbangan di fasilitas yang dibangun dengan anggaran besar.

Namun, komentar tersebut justru memunculkan kritik balik. Arif Lukman, pengamat publik sekaligus aktivis 98, menilai bahwa AHY seolah lupa bahwa BIJB Kertajati merupakan proyek yang dirintis pada masa pemerintahan ayahnya, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Niatnya mengkritik pemerintahan Jokowi, tapi malah menyinggung warisan era SBY sendiri,” ujar Arif pada Jumat, 31 Oktober 2025.

Dari Gagasan SBY ke Peresmian Jokowi

Bandara Kertajati yang terletak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mulai dirancang saat SBY menjabat sebagai presiden, bekerja sama dengan Gubernur Jawa Barat kala itu, Ahmad Heryawan. Meski sempat terhenti, pembangunan bandara kembali dilanjutkan di era Presiden Joko Widodo dan diresmikan pada 24 Mei 2018.

Dalam unggahan media sosialnya saat peresmian, Jokowi sempat menyampaikan apresiasi kepada SBY dan Aher atas peran mereka dalam meletakkan fondasi proyek tersebut. “Keduanya menjadi bagian penting dari terwujudnya bandara kebanggaan masyarakat Jawa Barat,” tulis Jokowi.

Fasilitas Modern, Tapi Belum Maksimal

Meski memiliki infrastruktur yang megah dan modern, Bandara Kertajati masih menghadapi tantangan dalam hal operasional. AHY menyoroti lokasi bandara yang jauh dari pusat kota serta belum optimalnya akses transportasi sebagai penyebab utama sepinya aktivitas penerbangan.

Pemerintah saat ini tengah berupaya meningkatkan fungsi bandara melalui kerja sama dengan GMF AeroAsia dalam pengembangan fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO). Langkah ini diharapkan mampu menarik lebih banyak maskapai dan mengurangi ketergantungan pada bandara utama di Jakarta.***

Pos terkait