Fajarasia.id – RATUSAN jemaah siang itu bergegas masuk ke Masjid Jami Al-Makmur Cikini, usai kumandang adzan dzuhur terdengar. Sebagian dari mereka adalah para karyawan yang berkantor di sekitar bangunan masjid.
Sebagian lainnya adalah pengendara yang kebetulan sedang melintas, termasuk para pengemudi ojek online. Masjid Jami Al-Makmur secara lokasi memang begitu strategis yang terletak di jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat.
Posisinya berada diantara gedung perkantoran, apartemen, dan sebelah Rumah Sakit PGI Cikini. Meski telah berdiri sejak akhir abad 19, tepatnya tahun 1890, masjid ini masih berdiri kokoh hingga kini.
Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah di Jakarta. Masjid ini konon dulunya dibangun seorang maestro pelukis Indonesia bernama Syarif Bustaman yang juga dikenal dengan nama Raden Saleh.
“Masjid ini milik Raden Saleh, seorang pelukis. Ia mengembara ke Eropa selama 10 tahun,” kata Ketua DKM Masjid Al-Makmur Cikini, Haji Syahlani.
“Pada tahun 1890 dia menyunting gadis Bogor. Terus tanah ini dijual kepada Yayasan Emma (Emma Ziekenhuis),” ujarnya.
Namun siapa sangka, keberadaan masjid ini dulunya sempat menimbulkan sengketa, hingga terancam akan dibongkar. “Masjid ini waktu itu satu-satunya masjid yang strategis (lokasinya) di Jakarta Pusat,” ucapnya.
“Dewan Gereja yang ada di sebelah masjid ini tidak senang (jika masjid berada di dekatnya), kalau bisa agak jauh. Dia mau mengganti (memindah) masjid ini sampai ada perlawanan dari masyarakat sekitar.” katanya.
“Kalau dilihat-lihat itu akal bulusnya penjajah kolonial Belanda yang mengadu domba supaya (masjid) ini dibongkar.”
Menurut cerita sejarah, sepeninggal Raden Saleh, masjid ini beberapa kali berpindah kepemilikan.
Lahan ini mulanya dibeli Sayed Abdullah bin Alatas yang selanjutnya dijual kepada yayasan milik kolonial Belanda, Yayasan Emma Ziekenhuis. Yayasan ini adalah misionaris Kristen milik orang Belanda yang bergerak di bidang pelayanan sosial dan rumah sakit.
Di tahun 1947, Yayasan Emma berencana ingin membongkar masjid tersebut untuk dibangun rumah sakit nonprofit dan aktivitas misionaris. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari warga setempat hingga memicu aksi perlawanan.
“Jadi waktu itu masjid ini diserahkan (diwakafkan) kepada masyarakat (oleh Raden Saleh). Tapi tidak langsung buat sertifikat, sedangkan Yayasan Emma langsung buat sertifikat,” kata Syahlani.
Kejanggalan ini diketahui saat masyarakat akan merenovasi bangunan masjid seiring dengan semakin bertambahnya jemaah di masjid. “Kalau mau diperluas ke belakang enggak mungkin karena jalan raya,” ujarnya.
“Bisanya ya ke depan, waktu itu masih lahan kosong. Pada waktu mau dibuat, (lahan) diakui oleh RS Cikini,” ucapnya.
Peristiwa itu memaksa berbagai pihak, termasuk pemerintah DKI Jakarta dan pengurus masjid untuk berunding. Hingga akhirnya proses sengketa lahan terselesaikan pada tahun 1991.
Masjid Al-Makmur Cikini Banyak Dikunjungi Warga
Mengingat masjid ini masih memiliki nilai sejarah, maka tidak heran jika masyarakat banyak yang mengunjunginya. Terlebih di saat bulan Ramadan.
“Banyak (yang mengunjungi masjid), apalagi kalau bulan Ramadan begini. Pasti orang dari mana-mana datang kemari,” kata petugas keamanan Masjid Al-Makmur Cikini, Muchlis.
“Biasanya menjelang waktu berbuka puasa, atau saat waktu salat. Ramai satu bulan full (penuh),” ujarnya.
Sejumlah tokoh penting di Indonesia juga pernah beribadah di masjid ini. Diantaranya para Presiden RI seperti Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Joko Widodo.
Jika dilihat dari arsitektur bangunan, masjid ini memiliki perpaduan gaya kebudayaan. Masjid yang dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tahun 1993 ini, memiliki perpaduan kebudayaan Tiongkok dan Betawi.
Hal ini bisa terlihat dari bentuk atap masjid yang melengkung. Selain itu bentuk pintu dan jendela masjid juga mirip dengan pintu di rumah-rumah adat Betawi.
Meski pernah mengalami pemugaran, namun bentuk bangunan masjid masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Termasuk bagian Menara masjid.
Masjid ini juga menjadi salah satu tempat favorit warga untuk beristirahat sejenak dari aktivitas di siang hari. Setelah mengikuti sholat Dzuhur berjamaah, tak sedikit warga yang bersantai sambil duduk-duduk di serambi masjid.
Kondisi seperti ini bahkan terlihat lebih ramai pada saat bulan Ramadan. Tidak hanya siang hari, masjid ini biasanya akan ramai saat menjelang waktu berbuka puasa hingga saat iktikaf.
Keberadaan masjid Al-Makmur juga dinilai menjadi simbol moderasi beragama dan persahabatan. Hal itu dikarena bersebelahan dengan rumah sakit tertua di Jakarta yang dikelola Persekutuan Gereja-gereja Indonesia.***





