Fajarasia.id – Jemaah calon haji Kloter 10 Embarkasi Medan tiba-tiba harus berpindah hotel, Sabtu (10/6/2023) sore. Hal ini sedikit membuat mereka kecewa karena masa tinggalnya di Madinah hanya tersisa sehari.
Sebelumnya, kejadian serupa terjadi pada jemaah calon haji Kloter 14 Embarkasi Makassar, yang bahkan sempat viral. Mereka dipaksa pindah oleh pihak hotel tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Persoalan ini tidak terlepas dari tidak komitmennya maskapai penerbangan Saudia Airlines mengangkut jemaah dari sejumlah embarkasi di Indonesia. Di sisi lain, kapasitas hotel di Madinah terbatas karena kebijakan Pemerintah Arab Saudi.
Hal tersebut diakui oleh Direktur Bina Haji Kementerian Agama (Kemenag), Arsyad Hidayat, di Madinah, Minggu (11/6/2023). “Di Madinah memang ada beberapa insiden terkait pemindahan akomodasi hotel jemaah haji,” ujarnya. melalui Rilis yang diterima , Senin (12/6/2023)
Arsyad mengatakan kejadian-kejadian tersebut tidak berdiri sendiri. “Ini sebuah rentetan panjang dari perubahan konfigurasi ke pesawat,” ujarnya.
Menurut Arsyad, pihak Saudia Airlines beberapa kali mengubah konfigurasi kapasitas seat dari semula 480 penumpang menjadi 405 penumpang. “Penumpang yang tidak terangkut dan lalu dibawa kloter berikutnya tidak bisa dimasukkan ke hotel yang sama,” ujarnya.
Hal ini karena hotel tersebut telah terisi oleh jemaah dari negara lain. “Sehingga terjadilah pemindahan beberapa rombongan jemaah,” katanya.
Arsyad mengatakan Saudia Airlines juga kerap menunda penerbangan sehingga jemaah terlambat masuk hotel di Madinah. “Ini beberapa kali terjadi dan tidak hanya membuat repot jemaah tetapi juga panitia di Madinah,” ucapnya.
Menurut Arsyad, pihak Saudi Airlines diduga kerepotan mendapatkan order penerbangan jemaah haji dari seluruh dunia. Pasalnya, dalam ketentuan disebutkan bahwa maskapai tersebut berhak memberangkatkan 50 persen dari kuota setiap negara termasuk Indonesia.
Jika Indonesia mendapatkan kuota 229.000 jemaah pada tahun ini, maka sekitar 115.000 di antaranya diangkut oleh Saudia Airlines. Sedangkan sisanya diterbangkan oleh maskapai nasional Garuda Indonesia.
Arsyad menduga armada Saudia mungkin terbatas untuk memenuhi ketentuan 50 persen kuota tersebut,” kata Arsad. “Bayangkan, ada 2,5 juta jemaah haji sedunia, sekitar 1,25 juta harus diangkut Saudia Airlines,” ujarnya.*****





