Kemenperin Gencarkan Regenerasi Peternak Sapi Perah Indonesia

Kemenperin Gencarkan Regenerasi Peternak Sapi Perah Indonesia

Fajarasia.id – Industri susu sapi perah Indonesia menghadapi berbagai kendala dengan ketersediaan hanya 20 persen sementara ini, regenerasi para peternak juga menjadi masalah. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggencarkan regenerasi peternak sapi perah, karena usia rata-rata peternak sapi perah Indonesia adalah 56 tahun, sekarang.

“Kami mengapresiasi usaha industri susu dalam mendukung peningkatan produktivitas peternakan sapi perah di Indonesia. Yaitu, melalui Program “Young Progressive Farmer Academy”,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika, Senin(10/7/2023).

Putu mengatakan, melalui program tersebut, para peternak muda dapat berperan meningkatkan produksi susu dalam negeri. “Sebab, saat ini pasokan bahan baku susu dalam negeri, baru tersedia 20 persen,” ujar Putu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, tingkat konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 16,27 Kilogram (Kg) per kapita per tahun. Atau, di bawah rata-rata negara di Asia Tenggara.

Sementara itu, masih berdasarkan data BPS, pada tahun 2022, kebutuhan susu mencapai 4,4 juta ton. Tapi, produksi susu sapi perah segar Indonesia, hanya 968.980 ton.

“Saat ini, kondisi persusuan nasional membutuhkan perhatian. Sebab, susu adalah sumber nutrisi seimbang yang dibutuhkan oleh tubuh manusia,” kata Putu.

Kendala lain dihadapi peternakan sapi perah Indonesia, kata dia, adalah kecilnya skala kepemilikan sapi, lahan terbatas, mahalnya biaya pembesaran. Kemudian, kurangnya pemahaman terhadap praktik ternak sapi perah yang baik.

“Serta, deraan penyakit kuku dan mulut (PMK) yang pernah menjangkiti lebih dari 538 ribu ternak. Di 17 provinsi pada tahun lalu, dan 72 ribu ekor adalah sapi perah,” kata Putu.

Program Young Progressive Farmer Academy, kata dia, adalah salah satu inisiatif Frisian Flag Indonesia. “Untuk mendorong minat anak muda menjadi peternak dan meningkatkan kesejahteraan peternak sapi perah di Indonesia, melalui peningkatan kapasitas,” kata Putu.

Program tersebut, juga bertujuan mencari peternak muda berpikiran progresif dalam mengembangkan peternakan sapi perah. Selain itu, tidak hanya meningkatkan kesejahteraan mereka, tetapi juga berkelanjutan atau ramah lingkungan.

Program tersebut, telah dilaksanakan, pada 19 Mei-27 Juni 2023, dengan 36 perencanaan bisnis potensial yang diajukan. “Dan telah terpilih 12 peternak yang dianggap memiliki perencanaan bisnis terbaik,” kata dia.

Putu menekankan, kesadaran anak-anak muda untuk meneruskan usaha peternakan sapi perah perlu digencarkan. “Pembekalan di Belanda, bagi 12 peternak muda yang menjadi pemenang,” kata Putu.

“Ini akan memperkuat kemampuan manajerial dan pengembangan usaha sapi perah mereka,” kata Putu.****

Pos terkait