Fajarasia.id — Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran mengeluarkan ancaman baru yang menyasar fasilitas vital air. Komando militer Khatam Al-Anbiya menegaskan, setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan menargetkan fasilitas energi, teknologi, hingga desalinasi milik Amerika Serikat dan Israel.
Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat 48 jam bagi Teheran untuk membuka Selat Hormuz, dengan peringatan akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika jalur tersebut tetap ditutup.
Fasilitas desalinasi menjadi sorotan karena perannya yang sangat penting di kawasan dengan ketersediaan air jauh di bawah rata-rata global. Menurut Bank Dunia, sekitar 42% kapasitas desalinasi dunia berada di Timur Tengah, dengan kontribusi besar terhadap pasokan air minum di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, dan Kuwait.
Menteri Energi Iran, Abbas Aliabadi, menyebut puluhan fasilitas air dan jaringan distribusi di negaranya telah rusak akibat konflik. Para pakar memperingatkan, serangan terhadap infrastruktur air berisiko memicu krisis yang lebih besar, termasuk eksodus penduduk dan guncangan ekonomi.
Meski demikian, sejumlah fasilitas desalinasi memiliki cadangan air untuk beberapa hari konsumsi, sehingga dampak langsung dapat diminimalisir jika gangguan tidak berlangsung lama.****





