Fajaraia.id – Sekitar dua pekan menjelang bulan suci Ramadan tahun ini, atau tepatnya 12 Februari 2025, Indonesia kedatangan tamu penting. Tamu ini sepertinya tidak banyak menarik perhatian media, sehingga tidak ada yang membahas secara khusus.
Namun, Presiden Prabowo memberi perhatian yang besar pada tamu itu. Ini dibuktikan dengan kedatangan Presiden Prabowo langsung menyambutnya di tangga pesawat untuk menerima kedatangan Presden Turkiye Recep Tayyip Erdogan.
Seorang presiden tuan rumah biasanya menyambut tamu kenegaraan di istana kepresiden. Namun kali ini sambutan dilakukan langsung di tangga pesawat. Pagi harinya, Presiden Prabowo masih menyambut secara resmi Presiden Erdogan di Istana Bogor.
Dalam dunia diplomasi, sikap ini merepakan gestur bahwa tuan rumah sangat menghormati tamu dan memberi perhatian besar akan persahabatan kedua negara. Ketika Presiden Erdogan pulang, kembali Presiden Prabowo mengantar langsung di depan tangga pesawat.
Dalam kunjungannya di Indonesia, Pemerintah Turkiye dan Indonesia telah mencapai kesepakatan di 13 bidang kerja. Kerja sama itu antara lain meliputi bidang pendidikan, agama, ekonomi dan pertahanan. Kerja sama pertahanan adalah kelanjutan dari apa yang dibahas Menhan Prabowo di Angkara tahun lalu.
Presiden Prabowo memang memberi perhatian khusus kepada hubungan Indonesia Turki. Sebelum dilantik sebagai Presiden, Menteri Pertahanan RI Prabowo pernah berkunung ke Angkara Turki, Juni 2024.
Meskipun Prabowo waktu itu belum menjadi Presiden, Erdogan menyambut Prabowo seperti seorang kepala negara. Erdogan tidak menunggu tamunya di dalam istana, tetapi turun ke halaman menyalami Prabowo.
Gestur Presiden Erdogan kepada Prabowo juga menunjukan keakraban. Ini terlihat misalnya ketika ada diskusi informal antara Presiden Erdogan, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Presiden Afrika Selatan, dan Presiden Prabowo di sela-sela KTT G20 di Brazil, 2024. Dalam perbincangan empat pemimpin dunia itu tangan Preside Erdogan menggenggam tangan Prabowo yang duduk di sampingnya.
Kehangatan Erdogan juga ditunjukan kepada Presiden Joko Widodo. Kedua Presiden itu bertemu beberapa kali selama keduanya menjabat sebagai Presiden. Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden Erdogan tahun 2017 di Ankara.
Dalam video yang beredar, Erdogan dan Jokowi berjalan sambil bergandengan tangan erat. Presiden Jokowi kemudian membuat vlog bersama Erdogan. Presiden Turkiye itu lalu menyampaikan salam kepada rakyat Indonesia dalam bahasa Turki.
Momen bergandengan tangan antara Erdogan dan Jokowi juga terlihat pada November 2023 ketika keduanya bertemu di Riyadh dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organsasi Konferensi Islam (KTT OKI) untuk membahas bantuan kemanusiaan bagi Palestina. Erdogan dan Jokowi berjalan di lobby ruangan yang luas sambil bergandengan tangan.
Ketika berbicara kepada wartawan keduanya masih bergandengan. Bahkan, mereka tetap bergandengan sampai memasuki ruangan khusus untuk suatu pembicaraan.
Kedekatan hubungan kedua pemimpin itu juga terjadi antara Presiden Habibie dengan Perdana Menteri Turki Necmetin Erbakan. Waktu itu, baik Indonesia dan Turki sedang dilanda eforia di kalangan umat Islam.
Necmatin Erbakan adalah pemimpin Turki dengan haluan Islam pertama kali sejak Turki menjadi negara sekuler 1924. Untuk pertama kalinya, Turki sebagai negeri Sekuler memiliki partai Islam yaitu Partai Refah.
Kemenangan Necmetin Erbakan disambut antusias baik di Turki maupun di Indonesia. Waktu itu di Indonesia sedang muncul organsasi baru yatu Ikatan Cendekiawan Islam (ICMI) dimana Prof Habibie sebagai ketuanya. Erbakan dan Habibie kebetulan juga sama-sama pernah berlajar di Jerman.
Kedua tokoh itu kemudian bisa bertemu. Ketika Habibie menjadi Presiden bersamaan dengan Nemetin Erbakan sebagai Perdana Menteri.
Hubungan Habibie dan Erbakan masih tetap terjaga setelah keduanya tidak menjadi pemimpin di negara masin-masing. Erbakan bahkan memberi hadiah kepada Habibie sebidang tanah.
Tanah itu kemudian digunakan sebagai Wisma Indonesia. Habibie juga pernah menghadiri pernikahan anak Erbakan sebagai saksi di Ankara.
Indonesia dan Turki memiliki banyak kesamaan, antara lain adalah bahwa kedua negara mayoritas berpenduduk Musim namun bukan negara yang berdasarkan Islam. Indonesia berdasarkan falsafah Pancasila sedangkan Turki berdasarkan sekularisme.
Hubungan Turki dan Indonesia lebih banyak merupakan kerja sama bilateral kedua negara. Meskipun kedua negara adalah anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI), namun peran keduanya dalam mengatasi masalah Palestina ternyata tidak bisa konkret.
Turki meskipun secara militer disegani di Timur Tengah, namun pada kenyataanya tidak berperan dalam proses gencatatan senjata antara Israel dan Hamas belakangan ini. Justru negeri seperti Qatar dan Mesir yang memainkan peran penting di Palestina. Sementara Indonesia yang aktif dalam diplomasi anti-Israel, juga tidak banyak peran nyata dalam mengatasi perang Israel-Palestina.****





