Fajarasia.id – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) sempat menghebohkan panggung geopolitik dunia. Namun, pasar energi global ternyata tidak bereaksi “gila-gilaan” seperti yang banyak dikhawatirkan. Harga minyak hanya bergerak naik tipis, menandakan dampak gejolak Venezuela masih terbatas.
Ekonom Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menjelaskan bahwa faktor utama penahan gejolak pasar adalah kecilnya porsi produksi Venezuela saat ini. “Produksi minyak Venezuela hanya sekitar 1 juta barel per hari, kurang dari 1 persen produksi global. Jadi, disrupsi jangka pendek dampaknya relatif terbatas,” ujarnya.
Padahal, di masa kejayaannya pada 1990-an, Venezuela pernah memproduksi hingga 3,5 juta barel per hari. Kini, kontribusinya jauh menurun.
Rencana Presiden AS Donald Trump untuk melibatkan perusahaan minyak besar dalam membangkitkan kembali sektor migas Venezuela dinilai tidak akan instan. Infrastruktur yang rusak parah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Selain itu, AS punya kepentingan menjaga keseimbangan pasar. “Washington tidak akan membiarkan pasokan membanjiri pasar karena biaya produksi shale oil di AS relatif tinggi,” jelas Ishak.
Ketidakpastian politik dan keamanan domestik Venezuela juga menjadi faktor penghambat. Demonstrasi di Caracas menunjukkan risiko besar bagi investor. Tanpa stabilitas, pemulihan produksi sulit berjalan mulus.
Menurut Ishak, harga minyak baru akan tertekan jika produksi Venezuela pulih ke level 2–3 juta barel per hari dalam 2–5 tahun ke depan. Untuk saat ini, pasar masih stabil. Brent hanya naik sekitar US$2 per barel setelah penangkapan Maduro.
Lebih jauh, jika AS berhasil mengonsolidasikan produksi minyaknya dengan Venezuela, posisi OPEC+ termasuk Rusia dan Iran bisa tergeser. “Secara politik, ini akan sangat menguntungkan AS,” tambahnya.
Bagi Indonesia, efek jangka pendek nyaris tak terasa. Namun, jika produksi Venezuela meningkat, minyak heavy crude murah bisa kembali membanjiri Asia. Meski begitu, kilang nasional yang lebih cocok untuk light crude membuat dampaknya terbatas.
Pertamina bahkan memprediksi surplus solar tahun ini berkat proyek RDMP dan implementasi B50, sehingga kebutuhan impor berkurang.




