Fajarasia.id – Rencana pemerintah menerapkan bensin campuran bioetanol 10 persen (E10) dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak. Managing Director Energy Shift Institute, Putra Adhiguna, menyebut kebijakan ini menjadi langkah penting dalam diversifikasi energi nasional.
“Pemanfaatan bioetanol dapat mengurangi konsumsi bensin berbasis fosil hingga 10 persen. Namun keberhasilan program ini harus dibarengi percepatan adopsi kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB) dan dorongan penggunaan transportasi umum,” ujar Putra, Minggu (19/7).
Ia menekankan, meski belum sepenuhnya menghilangkan kebutuhan impor, semakin besar pemanfaatan bioetanol produksi dalam negeri, semakin kuat pula ketahanan energi jangka panjang. Saat ini, bahan baku utama bioetanol berasal dari tetes tebu dan singkong, sehingga daerah dengan basis produksi seperti Jawa Timur dan Lampung layak menjadi prioritas pembangunan pabrik.
Putra juga mengingatkan risiko deforestasi jika ekspansi dilakukan ke wilayah sensitif seperti Papua. “Pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakan energi tidak menimbulkan dampak lingkungan baru,” katanya.
Keberhasilan program E10, lanjutnya, membutuhkan peningkatan kapasitas produksi bioetanol nasional secara bertahap. Dari sekitar 70 ribu kiloliter saat ini, targetnya mencapai 1,5 juta kiloliter agar mampu memenuhi kebutuhan domestik.****





