Fajarasia.id – Hubungan diplomatik antara China dan Venezuela kembali jadi sorotan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Nicolas Maduro. Meski terjadi gejolak politik, Beijing menegaskan tetap menjaga komunikasi dengan pemerintahan sementara Venezuela.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Jumat (9/1), menyatakan bahwa negaranya mementingkan hubungan dengan Venezuela dan akan terus memperkuat kerja sama.
“Apa pun perubahan politik yang mungkin terjadi di Venezuela, hal itu tidak akan mengubah keinginan China untuk memperdalam kerja sama praktis di berbagai bidang dan mempromosikan pembangunan bersama,” tegas Mao Ning.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, sebelumnya mengumumkan lewat media sosial bahwa ia telah bertemu dengan Duta Besar China untuk Venezuela, Lan Hu, pada Kamis (8/1). Rodriguez mengapresiasi sikap tegas Beijing yang mengecam penangkapan Maduro dan Cilia Flores oleh AS, yang dinilai melanggar hukum internasional serta kedaulatan Venezuela.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Venezuela Yvan Gil menegaskan komitmen Caracas untuk memperdalam perjanjian ekonomi dan perdagangan dengan China. “Hubungan bilateral ini didukung oleh kerangka hukum internasional dan peraturan kedua negara berdaulat,” tulis Gil di Telegram.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump disebut meminta pemerintahan sementara Venezuela menghentikan kerja sama dengan Rusia, China, Iran, dan Kuba. Trump bahkan mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyepakati penyerahan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS.
Padahal, data perusahaan minyak nasional Venezuela PDVSA menunjukkan ekspor minyak negara itu mencapai 952.000 barel per hari pada November 2025, sebelum blokade militer AS diberlakukan. Dari jumlah tersebut, 778.000 barel dikirim ke China, yang berarti Beijing menguasai 81,7 persen pangsa ekspor minyak Venezuela.
Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global. Tak heran, China menaruh perhatian besar pada hubungan dengan Caracas.
Sejak 2016, Beijing telah menginvestasikan 2,1 miliar dolar AS untuk industri minyak Venezuela. Data Morgan Stanley mencatat CNPC memiliki konsesi 1,6 miliar barel, sementara Sinopec memegang saham atas 2,8 miliar barel. Selain itu, menurut AidData, China telah memberikan pinjaman dan investasi ke Venezuela senilai 106 miliar dolar AS sejak tahun 2000.
Saat ini, Venezuela masih memiliki utang sekitar 17–19 miliar dolar AS kepada China. Meski begitu, Beijing menegaskan akan terus mendukung Venezuela dalam menegakkan kedaulatan, martabat, dan keamanan nasionalnya.




