Fajarasia.id – Gelombang demonstrasi besar kembali mengguncang ibu kota Serbia pada Sabtu (24/5/2026) waktu setempat, ketika puluhan ribu warga memadati pusat Kota Beograd untuk menuntut pemilu dipercepat. Aksi tersebut menjadi lanjutan dari gerakan antikorupsi yang melodic setelah tragedi runtuhnya kanopi stasiun kereta di Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Aksi massa kali ini memperlihatkan bahwa kemarahan publik terhadap pemerintah Presiden Serbia, Aleksandar Vučić, belum mereda meski protes telah berlangsung selama lebih dari satu tahun. Demonstrasi yang awalnya menuntut investigasi transparan atas tragedi stasiun kini berkembang menjadi tekanan politik besar untuk menggulingkan pemerintahan nasionalis yang berkuasa.
Dengan meneriakkan slogan khas gerakan mahasiswa, “Mahasiswa sedang menang”, ribuan demonstran bergerak menuju Slavija Square di pusat Beograd. Suara drum dan peluit menggema di jalan-jalan utama kota, sementara spanduk besar, kaus, lencana, hingga stiker yang dibawa massa dipenuhi slogan perlawanan tersebut.
Namun situasi memanas ketika demonstrasi mulai bubar pada Sabtu malam. Bentrokan pecah antara aparat kepolisian dan sejumlah demonstran bertopeng. Mereka melempar batu, botol, dan petasan ke arah polisi, sementara aparat membalas dengan gas air mata untuk membubarkan kerumunan.
Sejumlah orang ditangkap di lokasi. Kendaraan pasukan gendarmerie juga tampak dikerahkan untuk menghalau massa agar tidak mendekati gedung parlemen dan kantor kepresidenan Serbia.
Kantor kejaksaan Serbia langsung mengeluarkan pernyataan keras setelah kerusuhan pecah.
“Semua pihak yang malam ini setelah berakhirnya aksi publik di Slavija menyerang petugas polisi yang mengamankan acara akan diidentifikasi dan dituntut sesuai hukum,” demikian pernyataan kantor jaksa, dilansir AFP.
Presiden Vučić juga angkat bicara melalui unggahan di Instagram. Ia menyebut kerusuhan tersebut sebagai sesuatu yang menyedihkan bagi negara.
“Adegan yang kita saksikan malam ini … adalah adegan yang tidak baik bagi Serbia, adegan yang membuat sedih setiap warga negara kita,” tulis Vučić.
“Mereka tidak akan mengubah apapun dengan ini,” tambahnya.
Meski diwarnai kericuhan di akhir aksi, sebagian besar demonstrasi berlangsung damai. Sejak pagi, ribuan peserta mulai berdatangan sambil membawa bendera Serbia maupun atribut universitas masing-masing. Massa juga datang dari berbagai kota di seluruh negeri dengan membawa spanduk bertuliskan nama daerah asal mereka.
Mahasiswa arsitektur berusia 24 tahun bernama Andjela mengatakan tujuan demonstrasi kali ini adalah menunjukkan bahwa gerakan perlawanan belum padam.
“Tujuan protes hari ini adalah agar kita semua berkumpul lagi dan memperjelas kepada masyarakat bahwa kami masih ada di sini, bahwa kami terus berjuang dan bekerja, bahwa kami belum dan tidak akan berhenti,” katanya kepada AFP.
Mahasiswa dengan rompi berwarna terang bertugas sebagai pengatur massa selama aksi berlangsung. Selain itu, sejumlah veteran perang dan kelompok pengendara motor juga terlihat hadir untuk membantu menjaga keamanan demonstrasi.
Kepala Kepolisian Serbia, Dragan Vasiljevic, mengatakan pihaknya memperkirakan jumlah peserta mencapai 34.000 orang. Namun hingga kini belum ada estimasi independen terkait jumlah massa yang hadir.
Seorang pensiunan bernama Zoran Savic mengatakan demonstrasi tersebut membawa pesan jelas mengenai tuntutan perubahan politik di Serbia.
“Hari ini, sebuah pesan yang jelas sedang dikirimkan,” ujarnya.
“Perubahan harus datang, Serbia harus menjadi negara demokratis, supremasi hukum harus hadir untuk semua orang, artinya hukum harus berlaku sama bagi semua,” tambah Savic.
Ia juga menegaskan harapannya agar Serbia semakin dekat dengan komunitas Eropa.
“Dan Serbia harus menjadi bagian dari komunitas demokratis Eropa.”
Gerakan protes ini terus berlangsung sejak tragedi Novi Sad terjadi. Pada Maret 2025 lalu, demonstrasi serupa bahkan disebut berhasil mengumpulkan hingga 300.000 orang di jalanan Beograd.
Para mahasiswa yang memimpin gerakan kini berharap demonstrasi terbaru dapat kembali meningkatkan tekanan terhadap Presiden Vučić agar segera mengumumkan pemilu dini. Vučić sendiri beberapa kali menyinggung kemungkinan tersebut dan pada Kamis lalu mengisyaratkan bahwa pemilu bisa digelar pada musim gugur tahun ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah aksi demonstrasi memang diwarnai insiden kekerasan. Beberapa peserta protes mengaku diserang oleh kelompok bertopeng yang diduga pendukung pemerintah.
Situasi hak asasi manusia di Serbia juga mendapat sorotan internasional. Pada Jumat lalu, Komisaris HAM Dewan Eropa memperingatkan bahwa kondisi kebebasan sipil di Serbia memburuk.
Laporan tersebut menyinggung serangan terhadap aktivis dan jurnalis, menyempitnya ruang sipil, serta dugaan penyalahgunaan kekuatan polisi dalam menghadapi demonstrasi.
Salah satu demonstran lainnya, Ivan Milosavljevic, yang datang dari wilayah timur Serbia, mengatakan semangat perlawanan masyarakat belum surut sedikit pun.
“Setelah satu setengah tahun protes, masyarakat belum menyerah dan belum kehilangan kekuatan mereka,” katanya.
“Kekuatan protes bisa dilihat dari jumlah orang yang hadir hari ini. Kami akan terus melanjutkan sampai rezim anti-rakyat ini disingkirkan.”.***





