Fajarasia.id — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis data terbaru mengenai cadangan batu bara nasional yang mencapai 31,95 miliar ton. Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Surya Herjuna, menyebutkan bahwa sebagian besar cadangan tersebut didominasi oleh batu bara berkalori rendah.
Menurut Surya, komposisi cadangan saat ini terdiri dari 24,1 miliar ton batu bara berkalori rendah, 4,5 miliar ton berkalori menengah, dan hanya 3,4 miliar ton berkalori tinggi. “Sekitar 73 persen cadangan kita berkalori rendah, sementara kalori tinggi hanya 5 persen dan menengah 8 persen. Kondisi ini membuat daya saing Indonesia di pasar global tidak terlalu kuat,” jelasnya, Kamis (6/11/2025).
Jika dibandingkan dengan total sumber daya batu bara nasional yang mencapai 97,96 miliar ton, cadangan yang tersedia relatif lebih kecil. Dari jumlah tersebut, 67,3 miliar ton merupakan batu bara berkalori rendah, 15,5 miliar ton berkalori menengah, dan 15,1 miliar ton berkalori tinggi. Surya menambahkan, sebagian besar lokasi sumber daya berada di kawasan hutan yang sulit dibuka sehingga menyulitkan eksploitasi dan menurunkan daya saing internasional.
Di sisi lain, kebutuhan domestik masih bergantung pada batu bara berkalori menengah dan tinggi untuk pembangkit listrik. Hal ini menimbulkan dilema antara pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan persaingan di pasar dunia yang menuntut kualitas lebih tinggi.
Surya juga menyoroti perbandingan dengan Tiongkok yang memiliki produksi hampir 4 miliar ton per tahun. Sementara itu, produksi Indonesia pada periode Januari–September 2025 baru mencapai 584,168 juta ton, jauh dari target 739,674 juta ton. Ekspor ke Tiongkok pun masih terbatas, yakni sekitar 120 juta ton.
Untuk menjaga daya saing, Kementerian ESDM berkomitmen mencari solusi agar pemanfaatan sumber daya tidak dilakukan secara berlebihan, namun tetap mampu menghasilkan harga batu bara yang kompetitif. “Kita harus memastikan strategi pengelolaan yang berkelanjutan agar cadangan yang ada bisa dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan kepentingan jangka panjang,” pungkas Surya.****





