Fajarasia.id – Kisah berikut ini bersandar pada sebuah hadis yang cukup panjang, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim yang bersambung hingga Abu Hurairah. Cerita tersebut berkaitan dengan hayat Nabi Musa AS.
Allah SWT mengutus malaikat maut kepada Nabi Musa AS dalam wujud seorang pria. Begitu sampai di hadapan sang nabi, lelaki yang sesungguhnya adalah malaikat itu berkata tegas kepadanya. Dikatakan kepada saudara Nabi Harun AS itu bahwa ajalnya kian dekat dan saat-saat kematiannya akan segera tiba.
Karakteristik Nabi Musa antara lain memperlakukan orang lain secara spontan, sesuai dengan kepribadiannya. Begitu selesai bicara, malaikat yang berwujud manusia itu langsung dihantam oleh sang nabi. Pukulan Musa AS begitu kuat, sampai-sampai pecahlah bola mata malaikat tersebut.
Sesudah itu, sang malaikat maut kembali kepada Allah Ta’ala. Ia pun mengadukan nasibnya, “Ya Allah, Engkau telah mengutusku untuk menemui hamba-Mu yang tidak menginginkan kematian. Sekarang, mataku pecah akibat dipukulnya.”
“Ya Allah, Engkau telah mengutusku untuk menemui hamba-Mu yang tidak menginginkan kematian”.
Allah kemudian mengembalikan bentuk dan fungsi mata tersebut hingga normal kembali. Zat Yang Mahahidup lalu berfirman, “Kembalilah kamu kepada hamba-Ku itu dan sampaikan kepadanya, apakah engkau terus menginginkan kehidupan?” Dengan penuh ketaatan, berangkatlah malaikat maut menunaikan tugas tersebut.
“Ketahuilah, bahwa aku adalah malaikat maut yang ditugaskan Allah untuk mencabut nyawamu,” kata malaikat itu kepada Nabi Musa.
Sebelum sang nabi merespons, turunlah firman Allah kepada rasul Bani Israil itu. “Apakah engkau terus menginginkan kehidupan?” firman-Nya.
Kemudian, malaikat pencabut nyawa menghadirkan seekor lembu. Allah SWT lalu menunjukkan adanya opsi. “Jika engkau masih ingin terus hidup,” firman-Nya, ”maka letakkan tanganmu pada punggung sapi jantan ini. Satu bulu yang tertutupi oleh telapak tanganmu, maka itu sama dengan bertambahnya usiamu di dunia sebanyak satu tahun.”
Sebelum menyentuh punggung hewan itu, Nabi Musa termenung sesaat. Kemudian, ia bertanya, “Lantas, apa setelah itu?”
“Tetaplah engkau akan meninggal”.
Allah menjawab, “Tetaplah engkau akan meninggal.”
Musa AS berkata lagi, “Wahai Tuhanku, sekarang kupilih kematian itu dalam waktu dekat.”
Allah berfirman, “Kematian.”
Sebab, hanya Allah Zat Yang Maha Hidup. Setiap makhluk, termasuk para nabi dan rasul pun, pasti akan merasakan sakaratul maut.
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” (QS al-Ankabut: 57).
Sepanjang apa pun hayat, toh berakhir kematian juga. Maka, Nabi Musa berkata, “Sekarang saja (meninggal dunia).”
Namun, sebelum membiarkan malaikat maut mencabut nyawanya, Nabi Musa mengajukan satu permohonan kepada Allah. Ia meminta kiranya diperkenankan untuk menjalani detik-detik sisa usia di dekat Tanah Suci, Baitul Maqdis. Allah mengabulkan permintaan nabi-Nya itu.
Nabi Musa lalu ditempatkan di posisi yang begitu dekat dengan dinding Baitul Maqdis kala itu. Jaraknya dengan kota suci hanya sejauh lemparan batu.
Permintaan ini mengisyaratkan besarnya kerinduan sang nabi pada Baitul Maqdis. Sesungguhnya, ia dengan izin Allah SWT telah memerintahkan Bani Israil untuk bangkit merebut kota suci tersebut dari orang-orang zalim yang sedang mendudukinya.
Namun, umat Nabi Musa itu tidak hanya menolak, tetapi juga menyampaikan jawaban yang tidak beretika. Watak mereka diabadikan dalam Alquran, surah al-Maidah ayat ke-24.
“Mereka (Bani Israil) berkata, ‘Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.’”
Maka, tuntaslah sang malaikat mencabut nyawa Nabi Musa. Jenazahnya dimakamkan di lokasi tempatnya mengembuskan nafas terakhir.
Dalam menutup kisah ini, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya aku ke sana (Baitul Maqdis), maka akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan di sisi bukit pasir merah.”
“Seandainya aku (Rasulullah SAW) ke sana (Baitul Maqdis), maka akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya (Nabi Musa) yang ada di pinggir jalan di sisi bukit pasir merah”.
Harapan Nabi Musa akan Tanah Suci baru terwujud pada masa muridnya yang juga seorang nabi, Yusya bin Nun. Tokoh yang dikenal sebagai Joshua dalam dunia Barat memimpin pasukan Bani Israil yang teguh beriman untuk merebut Baitul Maqdis dari para agresor. Jihad yang dilakukan Yusya juga fenomenal.
Sebuah hadis Rasulullah SAW menuturkan, pada waktu sedang berperang, matahari hampir terbenam. Bila sampai itu terjadi, habislah hari Jumat dan mereka pun memasuki hari baru: Sabtu. Padahal, orang-orang Bani Israil, sesuai syariat kala itu, tidak boleh berperang pada hari Sabtu.
Maka, Nabi Yusya berdoa kepada Allah agar Dia menahan matahari, jangan terbenam dahulu. Permohonan itu dikabulkan Allah. Akhirnya, pasukan Mukminin ini dapat menumpas musuh-musuh sebelum tibanya hari Sabtu.***





