Banjir Berulang, DPR Soroti Lemahnya Tata Kelola Lingkungan

Banjir Berulang, DPR Soroti Lemahnya Tata Kelola Lingkungan

Fajarasia,id – Bencana banjir yang terus melanda berbagai wilayah di Indonesia kembali memantik sorotan tajam dari DPR RI. Komisi IV menilai, banjir bukan lagi sekadar fenomena musiman, melainkan cerminan kegagalan tata kelola lingkungan dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Anggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, menegaskan bahwa kombinasi antara perubahan iklim dan kerusakan lingkungan memperburuk dampak banjir. Ia menyebut penebangan hutan serta pembangunan di kawasan resapan air sebagai faktor utama meningkatnya limpasan air. “Minimnya infrastruktur pengendalian banjir, baik dari sisi kualitas maupun pemerataan, semakin memperparah kondisi,” ujarnya dalam keterangan pers, Minggu (1/2/2026).

Firman mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk menata ulang kebijakan penggunaan lahan secara tegas, menghentikan pembangunan yang melanggar tata ruang, serta memperkuat penegakan hukum terhadap perusak lingkungan. Ia menekankan pentingnya reboisasi dan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) sebagai prioritas nasional, bukan sekadar program seremonial.

Selain kebijakan struktural, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir seperti tanggul, drainase, dan normalisasi sungai harus dilakukan secara terencana dengan pengawasan ketat. Firman juga mengingatkan perlunya kesadaran masyarakat terhadap risiko banjir. “Banjir tidak bisa lagi dipandang sebagai takdir alam, ini persoalan kebijakan, penegakan aturan, dan kesadaran bersama,” tegasnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa sejumlah kementerian telah memiliki desain penanganan banjir. Rencana tersebut akan disatukan dalam satu kerangka kebijakan terintegrasi, mencakup mitigasi perubahan iklim dan antisipasi cuaca ekstrem. “Pendekatan ke depan dilakukan secara integralistik, dari hulu hingga hilir,” jelasnya.

Prasetyo juga menyampaikan duka atas musibah longsor di Cisarua, Bandung Barat, yang menelan korban jiwa. Ia menekankan pentingnya sistem peringatan dini serta edukasi masyarakat sebagai bagian dari strategi menghadapi bencana hidrometeorologi.

Pos terkait