Fajarasia.id — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan langkah pemerintah dalam mengalihkan sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke sejumlah negara lain di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Selama ini, sekitar 20–25% kebutuhan minyak mentah Indonesia dipasok dari Timur Tengah. Namun, konflik di kawasan tersebut mendorong pemerintah mencari alternatif pasokan. “Begitu terjadi perang, saya merubah pola. Kalau di sini tidak bisa, kita cari di tempat lain,” ujar Bahlil.
Ia menyebut Indonesia kini menjalin komunikasi dengan Angola dan Nigeria di Afrika, Amerika Serikat, serta Rusia. Diversifikasi ini dilakukan untuk memastikan pasokan energi nasional tetap aman. “Kalau saya temani Presiden berangkat cari minyak, itu bukan jalan-jalan. Kita kerja untuk 280 juta jiwa bangsa ini,” tegasnya.
Data Kementerian ESDM mencatat, sepanjang 2025 Indonesia mengimpor 135,33 juta barel minyak mentah, dengan 19% di antaranya berasal dari Arab Saudi. Sisanya dipasok dari berbagai negara termasuk Afrika, Amerika Latin, Malaysia, dan lainnya. Selain itu, Indonesia juga menjalin kerja sama jangka panjang dengan Singapura dan Malaysia untuk pasokan BBM.
Langkah diversifikasi ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada satu kawasan di tengah dinamika global yang penuh risiko.****





