Fajarasia.id – Pembicaraan antara pejabat AS dan Rusia berakhir setelah 12 jam negosiasi di Arab Saudi, Senin (24/3/2025). Pembicaraan ini membahas mengenai gencatan senjata parsial perang di Ukraina, dikutip dari Moscow Times.
Pernyataan bersama mengenai hasil pertemuan tersebut dijadwalkan akan diumumkan pada Selasa (25/3/2025). Fokus utama pertemuan di Riyadh adalah gencatan senjata di Laut Hitam, diharapkan menjadi langkah awal menuju perdamaian luas.
Presiden Donald Trump terus mendorong diakhirinya perang yang telah berlangsung selama tiga tahun, berharap dapat menghasilkan terobosan diplomatik. Namun, di tengah pembicaraan, Ukraina kembali dilanda serangan rudal di kota Sumy, yang melukai hampir 90 orang, termasuk 17 anak-anak.
Tim negosiator Ukraina berharap, pertemuan kedua mereka dengan delegasi AS menandakan adanya kemajuan. AS telah mengusulkan gencatan senjata 30 hari, tetapi usulan tersebut ditolak oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Salah satu topik utama diskusi kemungkinan dimulainya kembali Inisiatif Laut Hitam, yang sebelumnya memungkinkan ekspor pangan dari Ukraina. Rusia menarik diri dari inisiatif ini pada 2023, karena Barat tidak memenuhi janji meringankan sanksi ekspor pertanian Rusia.
“Masalah Inisiatif Laut Hitam. Semua aspek terkait pembaruannya ada dalam agenda hari ini,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
“Ini adalah proposal Presiden Trump dan Presiden Putin telah menyetujuinya,” ujarnya. “Dengan mandat inilah delegasi kami berangkat ke Riyadh”.
Awalnya, pembicaraan AS-Ukraina dan AS-Rusia direncanakan berlangsung bersamaan, namun akhirnya dilakukan secara terpisah. Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov menyebut, pertemuan dengan AS sebagai diskusi yang “produktif dan terfokus”.
Utusan Trump, Steve Witkoff menyampaikan optimismenya, gencatan senjata di Laut Hitam akan membuka jalan bagi kesepakatan lebih luas. Namun, Kremlin menegaskan, negosiasi masih diperkirakan akan berlangsung sulit.
Putin menawarkan alternatif dengan mengusulkan penghentian serangan terhadap fasilitas energi. Ia menolak menerima gencatan senjata penuh selama 30 hari seperti yang diusulkan AS dan Ukraina.
Ukraina berencana mengajukan usulan gencatan senjata yang lebih luas, mencakup fasilitas energi dan infrastruktur. Pemulihan hubungan AS-Rusia di bawah pemerintahan Trump telah meningkatkan kepercayaan diri Kremlin.
Dmitry Peskov menekankan, potensi kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara tidak dapat diremehkan. Sementara itu, Inggris dan Prancis mengadakan pertemuan di London untuk membahas rencana pengamanan kesepakatan gencatan senjata.***




