Fajarasia.id – Gencatan senjata terbaru antara Israel dan kelompok Hizbullah kembali retak. Kurang dari 24 jam setelah kesepakatan diumumkan, serangan udara Israel menghantam Lebanon selatan dan menewaskan sedikitnya 11 orang, Sabtu (20/6).
Kantor berita resmi Lebanon melaporkan jet tempur, drone, dan artileri Israel menyerang lebih dari selusin lokasi di sekitar Kota Nabatieh. Militer Israel menyebut operasi itu ditujukan kepada “target teroris Hizbullah” setelah kelompok tersebut menembakkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel.
Pejabat Hizbullah Hassan Fadlallah menegaskan pihaknya tetap berhak membalas serangan. “Yang mengkhawatirkan kami adalah musuh tidak sepenuhnya menghormati gencatan senjata,” ujarnya.
Perkembangan ini menunjukkan rapuhnya upaya perdamaian yang tengah didorong Amerika Serikat. Washington sebelumnya mengkritik operasi Israel karena dinilai berisiko menggagalkan kesepakatan lebih luas dengan Iran. Utusan khusus AS Steve Witkoff dijadwalkan bertemu pihak Iran di Swiss untuk memperkuat implementasi kesepakatan damai.
Di dalam negeri, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik agar tetap melanjutkan operasi militer. Sementara Hizbullah memperingatkan akan meningkatkan serangan jika Israel terus melakukan invasi ke Lebanon selatan.
Konflik yang kembali memanas sejak Maret lalu telah menimbulkan krisis kemanusiaan serius. Sekitar satu juta warga Lebanon masih mengungsi, sementara puluhan komunitas di wilayah selatan hancur akibat pertempuran berkepanjangan.***





