Fajarasia.id – Pasar modal semakin menjadi alternatif sumber pendanaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Tercatat sebanyak 42 perusahaan UKM yang melantai di Papan Akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil menghimpun dana sekitar Rp 2 triliun melalui penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bagus Rachman mengatakan, capaian tersebut menunjukkan besarnya peluang UKM untuk memperoleh tambahan modal melalui pasar modal.
Informasi tersebut disampaikan Bagus berdasarkan laporan Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam pertemuan di Gedung BEI, Jakarta, Senin.
“Tadi sampaikan Pak Dirut (Jeffrey Hendrik), sudah ada satu dari 43 (UKM) yang naik ke Papan Pengembangan, kita harapkan jadi Papan Utama. Dan Papan Akselerasi ini ada 42 perusahaan yang sudah emiten, ini bisa mendapatkan pembiayaan permodalan dari investor itu, totalnya Rp 2 triliun,” ujar Bagus.
Dia menjelaskan, saat ini BEI bersama Kementerian UMKM tengah memberikan pendampingan melalui program coaching clinic kepada 23 UKM.
Program tersebut bertujuan mempersiapkan perusahaan agar memenuhi persyaratan dan memiliki kesiapan untuk melakukan IPO. BEI optimistis ke-23 perusahaan tersebut dapat mencatatkan sahamnya di pasar modal pada 2027.
Selain itu, pemerintah dan BEI juga menyiapkan sekitar 200 UKM untuk mengikuti program Go Public Academy for SMEs guna meningkatkan pemahaman dan kesiapan pelaku usaha dalam mengakses pembiayaan melalui pasar modal.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menilai pasar modal memiliki peran strategis dalam membantu perusahaan skala menengah mengatasi keterbatasan akses permodalan.
Menurut dia, pendanaan melalui pasar modal dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas usaha, memperkuat struktur bisnis, dan meningkatkan daya saing perusahaan.
Jeffrey menegaskan, upaya mendorong perusahaan melakukan IPO tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah emiten, tetapi juga harus memperhatikan kualitas perusahaan yang tercatat di bursa.
“Fokus kami bukan hanya sekadar meningkatkan jumlah IPO, tetapi melahirkan perusahaan publik dengan fundamental kuat, tata kelola yang baik, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Jeffrey.
BEI mencatat potensi pasar modal Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini didukung oleh jumlah investor yang telah mencapai 33,4 juta serta 962 perusahaan yang tercatat di bursa.
Untuk memperluas akses pendanaan bagi perusahaan menengah, BEI mengembangkan empat inisiatif strategis.
Langkah tersebut meliputi penguatan kerja sama dengan Kementerian UMKM, kolaborasi dengan PT Surveyor Indonesia, peluncuran National GoPublic Academy for Small Medium Enterprises, serta pengkajian insentif perpajakan bagi perusahaan tercatat.
Melalui berbagai program tersebut, BEI berharap semakin banyak UKM yang mampu memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Tidak hanya memperoleh tambahan modal, perusahaan juga diharapkan meningkatkan kualitas tata kelola, transparansi, dan keberlanjutan bisnis.
BEI menargetkan semakin banyak perusahaan nasional yang mampu berkembang dari pemain lokal menjadi perusahaan berskala nasional hingga memiliki daya saing di pasar global.****





