Raja Charles Peringatkan Bahaya AI dan Serangan Siber

Raja Charles Peringatkan Bahaya AI dan Serangan Siber

Realitarakyat.com  – Raja Inggris Charles III memperingatkan meningkatnya ancaman serangan siber dan penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi merusak kepercayaan publik, mengganggu keamanan, hingga mengancam institusi demokrasi.

Peringatan tersebut disampaikan Charles melalui surat kepada National Cyber Security Centre (NCSC) dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya lembaga keamanan siber Inggris itu. Surat tersebut dipublikasikan NCSC pada Sabtu, sebagaimana dilaporkan BBC.

Charles menilai, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat harus diimbangi dengan sistem keamanan yang kuat. Pasalnya, pelaku kejahatan siber terus mengembangkan metode serangan dengan memanfaatkan teknologi otomatis dan berbagai perangkat digital.

“Keamanan siber yang kuat sangat penting untuk membuat lingkungan daring lebih aman dan tangguh,” tulis Charles dalam suratnya.

Menurut dia, tantangan keamanan digital tidak hanya berkaitan dengan perlindungan data, tetapi juga menyangkut stabilitas tatanan internasional dan kemampuan masyarakat menghadapi risiko teknologi baru.

Charles turut mengapresiasi kiprah NCSC selama satu dekade dalam melindungi Inggris dari serangan siber, menjaga institusi demokrasi, serta mengamankan infrastruktur penting yang mendukung kehidupan masyarakat.

Peringatan Raja Charles muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap serangan siber yang menyasar perusahaan dan pengguna layanan digital.

Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah dugaan peretasan terhadap peritel daring Asos. NCSC dilaporkan menawarkan bantuan kepada perusahaan tersebut setelah sistem aplikasi pihak ketiga diduga dimanfaatkan untuk mengirimkan notifikasi pop-up kepada pengguna.

Asos menyatakan sedang menyelidiki aktivitas tanpa izin tersebut. Perusahaan juga memperingatkan kemungkinan akses ilegal terhadap informasi pelanggan, termasuk nama, alamat, nomor telepon, alamat email, nomor pelanggan, dan tanggal lahir.

BBC melaporkan bahwa pihaknya dihubungi pelaku kejahatan siber yang mengklaim informasi yang bocor lebih luas daripada sekadar data kontak dasar. Klaim tersebut menambah kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan data pribadi, meskipun cakupan kebocoran masih perlu dipastikan melalui penyelidikan.

Kasus ini memperlihatkan bahwa serangan siber dapat berdampak langsung pada masyarakat, terutama ketika informasi pribadi yang tersimpan dalam sistem perusahaan jatuh ke tangan pihak yang tidak berwenang.

NCSC sendiri dibentuk pada 2016 sebagai bagian dari Government Communications Headquarters (GCHQ), badan intelijen komunikasi Inggris. Lembaga ini bertugas memperkuat pertahanan digital negara dari berbagai ancaman siber.

Selain serangan siber, Charles menyoroti risiko kecerdasan buatan apabila teknologi tersebut digunakan oleh pihak yang memiliki tujuan berbahaya.

Dalam pertemuan dengan sejumlah eksekutif industri AI di Dumfries House, Ayrshire, bulan lalu, Charles membahas pemanfaatan teknologi untuk mendukung keamanan. Pertemuan itu turut dihadiri CEO Nvidia Jensen Huang.

Charles menekankan pentingnya mempertimbangkan secara serius potensi risiko besar dari perkembangan AI, termasuk kemungkinan munculnya kemampuan yang membahayakan manusia apabila teknologi tersebut jatuh ke tangan yang salah.

Menurut dia, kemajuan teknologi tidak semestinya hanya diukur dari kecepatan inovasi. Pengembangannya juga harus mempertimbangkan dampak terhadap manusia, komunitas, dan lingkungan.

Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan AI menghadirkan dua sisi sekaligus: peluang untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan risiko ketika teknologi disalahgunakan tanpa pengawasan yang memadai.

Karena itu, penguatan keamanan siber, perlindungan data pribadi, serta pengawasan terhadap pemanfaatan AI menjadi semakin penting. Upaya tersebut diperlukan agar inovasi digital tetap memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa mengabaikan ancaman terhadap keamanan dan kepercayaan publik.****

Pos terkait