Api Biru Papandayan Bikin Heboh, Ini Penjelasan Ahli

Api Biru Papandayan Bikin Heboh, Ini Penjelasan Ahli

Fajarasia.id  – Fenomena api biru atau blue fire di kawasan Gunung Papandayan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menarik perhatian publik setelah rekaman kemunculannya ramai beredar di media sosial. Di balik keindahannya, fenomena alam ini menyimpan potensi bahaya yang perlu diwaspadai para pendaki.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa api biru tersebut berasal dari pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan vulkanik.

Dikutip dari laman IPB University, Senin (12/10/2026), Sonni menerangkan, gas vulkanik yang dilepaskan dari dalam bumi, terutama hidrogen sulfida (H₂S), dapat bereaksi dengan oksigen di udara dan menghasilkan nyala api berwarna biru.

Gas tersebut keluar melalui rekahan fumarol atau solfatara dengan suhu yang dapat mencapai ratusan derajat Celsius. Dalam kondisi tertentu, pembakaran gas menghasilkan nyala biru yang dikenal sebagai blue fire.

“Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius,” jelas Sonni.

Fenomena ini lebih mudah terlihat pada malam hari karena cahaya birunya relatif redup ketika dibandingkan dengan cahaya matahari. Di Papandayan, kemunculan api biru dilaporkan dapat diamati di sejumlah area fumarol aktif, termasuk Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise, terutama ketika kondisi benar-benar gelap.

Menurut Sonni, api biru di Gunung Papandayan bukanlah fenomena yang baru muncul. Keberadaannya telah diketahui sejak sekitar 2002, setelah erupsi pada November tahun tersebut membuka sejumlah rekahan baru di kawasan vulkanik.

Rekahan itu terdapat di sekitar Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak. Perubahan jalur keluarnya gas membuat emisi vulkanik terkonsentrasi pada celah-celah tertentu sehingga memungkinkan terjadinya pembakaran ketika gas bertemu dengan oksigen di udara.

Fenomena serupa juga dikenal di Kawah Ijen, Jawa Timur, yang selama ini menjadi salah satu lokasi populer untuk menyaksikan api biru.

Sonni turut menyoroti perubahan aktivitas vulkanik Papandayan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan catatan yang ia rujuk dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), periode 2022–2026 disebut menunjukkan peningkatan fluks gas sulfur dioksida (SO₂) yang disertai kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal.

Suhu fumarol yang sebelumnya sekitar 150 derajat Celsius juga disebut meningkat menjadi 300–400 derajat Celsius.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi intensitas keluarnya gas dan peluang terjadinya pembakaran. Namun, kemunculan api biru saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa gunung sedang mengalami peningkatan status aktivitas vulkanik.

Di balik pemandangannya yang menarik, kawasan api biru Papandayan memiliki risiko keselamatan. Gas vulkanik, termasuk sulfur dioksida, dapat mengganggu sistem pernapasan, sedangkan konsentrasi gas tertentu dapat membahayakan manusia.

Sonni mengingatkan bahwa masker kain biasa tidak memadai untuk melindungi seseorang dari paparan gas vulkanik berbahaya.

Selain risiko keracunan gas, tanah di sekitar lubang fumarol juga berpotensi rapuh dan dapat membahayakan orang yang mendekat.

Karena itu, pendaki dan pengunjung diminta tidak mendekati rekahan tempat gas keluar hanya demi mendapatkan foto atau video dari jarak dekat. Pengamatan sebaiknya dilakukan dari lokasi aman dengan mengikuti arahan petugas dan ketentuan pengelola kawasan.

Fenomena api biru Papandayan menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik dapat menghadirkan pemandangan alam yang menakjubkan sekaligus menyimpan bahaya yang tidak selalu terlihat. Keselamatan tetap harus menjadi prioritas, terutama bagi pengunjung yang ingin menyaksikannya pada malam hingga dini hari.****

Pos terkait