Produksi Kakao Naik, HPE Ekspor Turun 7,81 Persen

Produksi Kakao Naik, HPE Ekspor Turun 7,81 Persen

Fajarasia.id  – Harga patokan ekspor (HPE) biji kakao untuk periode November 2026 turun 7,81 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dipicu meningkatnya pasokan biji kakao dari negara-negara produsen utama, terutama kawasan Afrika Barat yang tengah memasuki masa panen.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Tommy Andana mengatakan, peningkatan stok di pasar global mendorong penurunan harga referensi (HR) dan HPE biji kakao.

“Terjadi peningkatan stok biji kakao akibat masa panen di negara produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu penurunan HR dan HPE biji kakao periode November 2026,” kata Tommy dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Untuk November 2026, HR biji kakao ditetapkan sebesar 5.613,60 dollar AS per metrik ton (MT). Angka tersebut turun 444,27 dollar AS atau 7,33 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Penurunan HR turut memengaruhi HPE biji kakao yang kini ditetapkan sebesar 5.242 dollar AS per MT. Nilai itu berkurang 444 dollar AS atau 7,81 persen dari bulan Oktober 2026.

Tommy menjelaskan, penetapan HR dan HPE dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia.

Selain biji kakao, Kemendag juga menetapkan perubahan HPE untuk sejumlah komoditas kehutanan pada November 2026.

Beberapa produk kayu mengalami kenaikan, antara lain kayu veneer dari hutan alam, kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box), serta kayu olahan jenis meranti dari hutan tanaman. Kenaikan juga berlaku untuk sejumlah produk kayu dari jenis akasia dan sengon.

Sementara itu, HPE keping kayu (chipwood), kayu olahan jenis sungkai dengan luas penampang 1.000–4.000 milimeter persegi, serta kayu olahan khusus jenis merbau dengan luas penampang 4.000–10.000 milimeter persegi tidak mengalami perubahan.

Adapun sejumlah produk kehutanan lainnya justru mengalami penurunan HPE. Produk tersebut meliputi kayu veneer dari hutan tanaman, kayu kering atau pecahan (wood in chips or particle), serta kayu olahan jenis merbau dengan luas penampang 1.000–4.000 milimeter persegi.

Penurunan juga terjadi pada produk kayu jenis eboni dan jati, serta sejumlah hasil hutan tanaman dari jenis pinus, gmelina, karet, balsa, dan eukaliptus.

Di tengah penurunan harga biji kakao dan sejumlah produk kayu, HPE getah pinus justru mengalami kenaikan tipis.

Pada November 2026, HPE getah pinus ditetapkan sebesar 1.023 dollar AS per MT, naik 3 dollar AS atau 0,29 persen dibandingkan Oktober 2026.

Perubahan HPE berbagai komoditas tersebut mencerminkan dinamika harga dan pasokan di pasar internasional. Kemendag menetapkan besaran patokan ekspor dengan memperhatikan perkembangan perdagangan global serta kondisi masing-masing komoditas.***

Pos terkait