Fajarasia.id – Perubahan iklim berpotensi menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan negara-negara Asia Tenggara. Produksi sejumlah komoditas utama, terutama padi, jagung, dan tebu, diproyeksikan mengalami penurunan dalam dua dekade mendatang akibat meningkatnya suhu dan perubahan pola curah hujan.
Ancaman tersebut terungkap dalam studi ASEAN Agri Climate Impact Twenty yang dirilis Badan Pangan Singapura bersama Universitas Nasional Singapura.
Dalam laporan tersebut, produksi padi di Asia Tenggara diperkirakan turun rata-rata 3 hingga 5 persen selama periode 2025-2044. Sementara itu, produksi jagung berpotensi menyusut 5 hingga 6 persen dan tebu sekitar 1 hingga 4 persen.
Sebaliknya, sejumlah komoditas justru diproyeksikan mengalami peningkatan produksi. Singkong diperkirakan tumbuh hingga 16 persen, sedangkan produksi kedelai berpotensi meningkat antara 11 hingga 13 persen.
Meski demikian, peningkatan produksi pada beberapa komoditas bukan berarti sektor pertanian terbebas dari ancaman perubahan iklim.
Laporan tersebut menjelaskan, hasil pertanian tetap rentan terhadap perubahan kondisi cuaca setiap tahun, termasuk suhu panas ekstrem, curah hujan tinggi, hingga kekeringan berkepanjangan.
“Proyeksi rata-rata yang lebih baik untuk beberapa tanaman pertanian tidak berarti tanaman-tanaman tersebut terbebas dari risiko-risiko terkait iklim,” demikian penjelasan laporan yang diterima redaksi, Sabtu (31/10/2026).
Salah satu ancaman yang menjadi perhatian adalah fenomena El Nino dengan intensitas sangat kuat.
Studi tersebut menemukan bahwa El Nino ekstrem berpotensi menekan rata-rata produksi tanaman pertanian di kawasan Asia Tenggara hingga sekitar 10 persen.
Sistem pertanian padi dan pertanian yang mengandalkan curah hujan atau tadah hujan disebut sebagai sektor yang paling rentan terhadap kondisi tersebut.
Keterbatasan sumber air irigasi membuat petani menghadapi risiko lebih besar ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Kondisi ini dapat mengganggu masa tanam, memperlambat pertumbuhan tanaman, hingga menyebabkan penurunan hasil panen.
Secara keseluruhan, Asia Tenggara diperkirakan menghadapi peningkatan suhu, gelombang panas yang semakin sering dan berlangsung lebih lama, serta pola curah hujan yang semakin sulit diprediksi.
Perubahan tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan air untuk pertanian, mengubah kalender tanam, dan meningkatkan risiko gagal panen.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga dapat meluas ke sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat, terutama melalui gangguan pasokan pangan dan kenaikan harga komoditas.
Bagi negara-negara yang menjadikan beras sebagai makanan pokok, penurunan produksi padi menjadi persoalan strategis yang perlu diantisipasi sejak dini.
Temuan studi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya dibangun melalui peningkatan luas lahan dan produktivitas pertanian. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim juga menjadi faktor penting.
Penguatan sistem irigasi, penggunaan varietas tanaman tahan kekeringan dan suhu tinggi, perbaikan tata kelola air, serta pengembangan sistem peringatan dini cuaca ekstrem menjadi sejumlah langkah yang diperlukan untuk mengurangi risiko.
Tanpa langkah adaptasi yang memadai, perubahan iklim berpotensi menggerus produktivitas pertanian dan membuat upaya menjaga ketahanan pangan di Asia Tenggara semakin berat dalam beberapa dekade mendatang.****





