Fajarasia.id — Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim meminta pemerintah memprioritaskan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemulihan habitat satwa liar di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung.
Menurut Chusnunia, yang akrab disapa Nunik, kebakaran di kawasan konservasi tersebut bukan hanya mengancam kelestarian lingkungan dan habitat satwa, tetapi juga berpotensi mengganggu pariwisata serta perekonomian masyarakat sekitar.
“Kami prihatin dengan kebakaran yang terus terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas. Pemerintah harus memaksimalkan upaya pemadaman dan memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi meluas,” kata Nunik dalam keterangannya di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Berdasarkan pemberitaan yang mengutip data Balai TNWK, sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026 tercatat 21 kejadian kebakaran dengan luas area terdampak sekitar 7.000 hektare.
Upaya pemadaman menghadapi tantangan karena sebagian kawasan memiliki vegetasi semak belukar dan lahan bergambut. Kondisi tersebut memungkinkan api bertahan di lapisan tanah dan kembali menyala ketika kondisi mendukung.
Nunik menilai, kerusakan vegetasi, asap, dan terganggunya habitat satwa dapat mengurangi daya tarik Way Kambas sebagai destinasi wisata alam unggulan di Lampung. Jika kebakaran terus berulang, dampaknya juga dapat dirasakan pelaku usaha dan warga yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan.
Menurut dia, sektor pariwisata di sekitar kawasan konservasi menggerakkan berbagai usaha masyarakat, mulai dari jasa pemandu, transportasi, penginapan, hingga perdagangan makanan dan produk lokal.
“Ketika kawasan wisata mengalami gangguan, masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas pariwisata juga bisa terkena dampaknya. Karena itu, penanganan karhutla harus dilihat secara menyeluruh,” ujarnya.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta pemerintah, pengelola TNWK, pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat desa penyangga memperkuat koordinasi dalam menangani dampak kebakaran.
Ia juga mendorong penyampaian informasi secara berkala melalui kanal resmi mengenai kondisi kawasan, akses kunjungan, dan keselamatan wisatawan. Langkah ini diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi akurat dan tidak memasuki area yang masih berisiko.
Selain penanganan darurat, Nunik menegaskan bahwa pemulihan ekosistem harus menjadi bagian utama dari upaya pascakebakaran.
Pemerintah dan pengelola taman nasional perlu memetakan tingkat kerusakan kawasan, memeriksa kondisi vegetasi, serta memantau keberadaan dan pergerakan satwa liar. Hasil pemetaan tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang membutuhkan pemulihan segera.
“Setelah api padam, jangan sampai kawasan yang terbakar dibiarkan begitu saja. Harus ada pemetaan kerusakan, pemantauan satwa, dan program pemulihan habitat yang terukur,” katanya.
Ia menambahkan, pemulihan habitat penting untuk memastikan satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang aman sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan konservasi.
Di sisi pencegahan, Nunik meminta pemerintah memperkuat patroli dan deteksi dini, mengevaluasi penyebab kebakaran, meningkatkan kesiapsiagaan petugas, serta melengkapi sarana pemadaman. Penegakan hukum juga harus dilakukan terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara melawan hukum.
Ia turut mendorong evaluasi dampak kebakaran terhadap pelaku usaha lokal agar pemerintah dapat menyiapkan langkah pemulihan ekonomi sesuai kebutuhan masyarakat.
“Way Kambas memiliki nilai penting bagi konservasi sekaligus pariwisata Lampung. Menjaga kawasan ini berarti menjaga habitat satwa, melindungi lingkungan, dan mempertahankan sumber penghidupan masyarakat,” tegas Nunik.
Menurut dia, penanganan karhutla di Way Kambas harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pemadaman dan pencegahan hingga pemulihan habitat serta pengembangan pariwisata berkelanjutan.****





