Fajarasia.id — Anggota DPR RI Taufiq R Abdullah meminta kesiapsiagaan menghadapi potensi tsunami diperkuat hingga tingkat desa dan berbagai fasilitas publik di wilayah pesisir, terutama Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Taufiq menilai masyarakat perlu mengetahui dengan jelas jalur maupun lokasi evakuasi yang tersedia. Kesiapan tersebut, menurut dia, tidak cukup hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga harus disertai latihan dan edukasi kepada warga.
“Apakah jalur dan tempat evakuasi tersedia serta sudah diajarkan kepada masyarakat,” kata Taufiq di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan menyusul pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai skenario tsunami di pesisir selatan Jawa. Dalam skenario tersebut, tsunami di Kebumen dapat mencapai ketinggian sekitar 14–18 meter apabila terjadi gempa megathrust di selatan Jawa.
Berdasarkan pemodelan BMKG, gelombang tsunami diperkirakan tiba di pesisir Kebumen sekitar 38–46 menit setelah gempa. Taufiq menegaskan, angka tersebut merupakan skenario ilmiah untuk kepentingan mitigasi, bukan prediksi kapan gempa akan terjadi.
“Ini adalah skenario pemodelan, lagi-lagi bukan prediksi. Ilmu pengetahuan kita belum mampu memprediksi secara presisi,” ujarnya.
Skenario tersebut menggunakan asumsi gempa dengan magnitudo maksimum sekitar 8,7. Selain Kebumen, sejumlah wilayah pesisir selatan Jawa, termasuk Cilacap hingga Pacitan, juga berpotensi terdampak.
Menurut Taufiq, perkiraan waktu kedatangan tsunami harus dipandang sebagai kesempatan untuk menyelamatkan diri. Karena itu, masyarakat perlu memahami langkah yang harus dilakukan segera setelah merasakan gempa kuat atau menerima peringatan dini.
“Artinya, begitu ada kabar gempa, kita masih ada waktu setengah jam lebih untuk siap-siap,” katanya.
Ia mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan memastikan sistem peringatan dini berfungsi baik, jalur evakuasi mudah diakses, serta tempat pengungsian tersedia dan layak digunakan.
Kesiapsiagaan juga dinilai perlu diperluas ke sekolah, pesantren, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya. Pemerintah desa bersama relawan harus memiliki kapasitas yang memadai untuk bergerak cepat ketika bencana terjadi.
Taufiq menekankan bahwa kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan warga yang membutuhkan bantuan khusus, harus menjadi bagian penting dalam perencanaan evakuasi.
Dengan demikian, mitigasi tsunami tidak hanya bergantung pada teknologi peringatan dini, tetapi juga pada kesiapan masyarakat, pemerintah daerah, infrastruktur, serta koordinasi di tingkat paling dekat dengan warga.***





