Fajarasia.id – Sebuah jajak pendapat menunjukkan, 85 persen warga Greenland menolak wilayah Pulau Arktik bergabung dengan Amerika Serikat. Hampir setengah dari responden menganggap ketertarikan Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland sebagai ancaman, dilansir CNA, Kamis (30/1/2025).
Trump sebelumnya menyatakan, Greenland berperan penting untuk keamanan AS, dan meminta Denmark untuk menyerahkan kendali atas pulau tersebut. Survei ini dilakukan lembaga jajak pendapat Verian atas permintaan surat kabar Berlingske dan harian Sermitsiaq.
Hanya 6 persen warga Greenland yang setuju dengan ide bergabungnya pulau tersebut dengan Amerika Serikat. Sebanyak 9 persen responden masih ragu untuk memberikan pendapat mereka.
Bahkan, 45 persen responden menganggap ketertarikan Trump sebagai ancaman. Lalu 43 persen responden melihatnya sebagai peluang, dan 13 persen belum memutuskan.
Greenland saat ini menikmati banyak manfaat kesejahteraan yang serupa dengan Denmark. Termasuk layanan kesehatan universal dan pendidikan gratis.
Hanya 8 persen dari yang disurvei bersedia mengganti kewarganegaraan Denmark mereka menjadi kewarganegaraan Amerika Serikat. Sementara itu, 55 persen lebih memilih untuk tetap menjadi warga negara Denmark, dan 37 persen masih belum memutuskan.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, menyatakan dukungannya terhadap prinsip penghormatan terhadap batas-batas internasional. Pernyataan tersebut diungkapkan setelah Frederiksen bertemu dengan pemimpin Eropa dan Sekretaris Jenderal NATO.
Frederiksen menyambut baik hasil survei mencerminkan keinginan banyak warga Greenland untuk melanjutkan hubungan dekat dengan Denmark. Selain itu, pemerintah Denmark juga berencana untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Arktik.
Pemerintah Arktik akan mengalokasikan dana sebesar 14,6 miliar kroner (Rp33,1 triliun) untuk memperkuat kehadiran militer di wilayah tersebut. Greenland diberikan otonomi luas pada 2009, hak untuk menyatakan kemerdekaan melalui referendum.
Perdana Menteri Greenland, Mute Egede yang semakin mendorong kemerdekaan, menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual. Ia juga menegaskan, masa depan pulau tersebut harus ditentukan oleh rakyat Greenland.***




