Fajarasia.id – Pemerintah Australia mengeluarkan imbauan keras kepada warganya yang berada di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut. Langkah ini diambil menyusul gelombang protes besar-besaran yang terus meluas dan diwarnai aksi kekerasan.
“Jika Anda berada di Iran, Anda harus segera pergi,” bunyi imbauan perjalanan resmi pemerintah Australia yang dikutip AFP, Rabu (7/1/2026).
Dalam pernyataan itu, Australia menegaskan situasi keamanan di Iran sangat tidak menentu. Protes yang berlangsung disebut berpotensi meningkat sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Gelombang demonstrasi sendiri bermula pada 28 Desember 2025, ketika para pedagang di Teheran menutup toko sebagai bentuk protes atas kenaikan biaya hidup. Aksi kemudian menyebar ke berbagai wilayah, terutama di barat Iran, yang merupakan basis kelompok minoritas Kurdi dan Lor.
Organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan, sedikitnya 27 demonstran tewas, termasuk lima anak di bawah usia 18 tahun, akibat tindakan aparat keamanan. Sementara otoritas Iran menyebut sejumlah anggota pasukan keamanan juga menjadi korban, termasuk seorang polisi yang ditembak mati pada Selasa.
Laporan terbaru menyebut total korban jiwa akibat gelombang protes hingga Selasa (6/1) telah mencapai 35 orang.
Situasi ini menambah ketegangan politik di Iran, yang tengah menghadapi krisis ekonomi dan melemahnya nilai tukar rial. Pemerintah setempat berupaya meredakan gejolak dengan menggelar pembicaraan bersama pedagang dan pemilik toko, namun kondisi di lapangan disebut terus memburuk.





